POSKOTA.CO.ID - Lebaran di Indonesia tak hanya identik dengan tradisi mudik, saling bermaafan, dan berbagi kebahagiaan, tetapi juga berbagai hidangan khas di meja makan keluarga.
Salah satu makanan yang tak pernah absen dalam perayaan Lebaran adalah opor ayam. Hidangan berkuah santan dengan cita rasa gurih ini hampir selalu disajikan bersama ketupat.
Namun, mengapa opor ayam begitu erat kaitannya dengan Lebaran? Apakah ini sekadar kebiasaan turun-temurun, atau ada makna mendalam di balik kehadirannya dalam perayaan hari raya idul fitri?
Jika ditelusuri lebih jauh, sejarah opor ayam ternyata berkaitan erat dengan akulturasi budaya dan perjalanan panjang peradaban di Nusantara.
Lalu, bagaimana sebenarnya perjalanan panjang opor ayam hingga menjadi bagian dari tradisi Lebaran di Indonesia? Simak sejarah lengkapnya berikut ini.
Baca Juga: Resep Menu Buka Puasa Ramadhan Pakai Opor Ayam Kampung Enak dan Lezat, Butuh 4 Step Langsung Jadi
Jejak Sejarah Opor Ayam di Nusantara
Seperti dikutip dari kanal YouTube Dunia Sejarah, opor ayam telah dikenal sejak zaman kerajaan di Nusantara.
Pada masa itu, daging merupakan makanan mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan dan keluarga kerajaan.
Masyarakat biasa yang kesulitan mendapatkan daging mulai mengolah ayam dengan bumbu rempah dan santan, menghasilkan hidangan gurih yang kemudian dikenal sebagai opor ayam.
Seiring waktu, opor ayam menjadi semakin populer dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Kini, hidangan ini tidak hanya menjadi sajian sehari-hari, tetapi juga menu wajib dalam perayaan Lebaran di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Resep Opor Ayam Spesial Lebaran, Menu Hidangan Wajib di Hari Raya
Sejarawan kuliner Indonesia, Fadli Rahman, mengungkapkan bahwa opor ayam merupakan hasil dari akulturasi budaya antara Nusantara dengan pengaruh Arab dan India.
Budaya India dikenal dengan masakan kari, sementara budaya Arab memiliki hidangan gulai. Kedua jenis masakan ini diperkenalkan ke Nusantara oleh para pedagang dan penyebar agama Islam sejak abad ke-16.
Dalam perjalanannya, masyarakat Indonesia memodifikasi hidangan tersebut dengan menggunakan bahan-bahan lokal, seperti santan sebagai pengganti yoghurt atau susu yang digunakan dalam korma, hidangan khas dari Kerajaan Mughal di India.
Melalui modifikasi tersebut, lahirlah opor ayam yang dikenal saat ini. Namun, meskipun dikenal sebagai hidangan nasional, opor ayam memiliki variasi rasa di berbagai daerah di Indonesia.
Di Jawa Tengah, misalnya, opor ayam memiliki cita rasa yang lebih manis karena penggunaan gula Jawa dalam bumbunya.
Sementara itu, di Sumatera, hidangan ini lebih kaya akan rempah-rempah, menghasilkan rasa yang lebih kuat dan tajam.
Terlepas dari perbedaannya, opor ayam tetap menjadi bagian dari identitas kuliner Nusantara yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keberadaannya dalam setiap perayaan Lebaran menunjukkan betapa pentingnya hidangan ini dalam budaya masyarakat Indonesia.