Baca Juga: Klaim Link DANA Kaget 24 Maret 2025 Pagi Ini Dengan 4 Cara Mudah, Saldo Rp210.000 Langsung Cair!
Refleksi: Dialog vs Kekerasan
Amitya menegaskan bahwa penyampaian aspirasi seharusnya dilakukan melalui dialog, bukan kekerasan. “Kalau untuk barang, kita bisa tambal sulam, tapi nyawa tidak bisa diganti,” ujarnya.
Pernyataan ini sejalan dengan prinsip HHI yang menekankan perlindungan nyawa dan martabat manusia, bahkan dalam situasi konflik.
Namun, tantangannya adalah bagaimana menciptakan ruang dialog yang inklusif dan efektif. Dalam kasus ini, DPRD Kota Malang berencana mengunjungi korban dan memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai. Langkah ini patut diapresiasi, meski perlu diikuti dengan tindakan konkret untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Insiden di Malang menjadi pengingat bahwa konflik, baik dalam skala kecil maupun besar, selalu menimbulkan korban dan kerugian. Prinsip-prinsip Hukum Humaniter Internasional, meski dirancang untuk konflik bersenjata, dapat menjadi panduan dalam mengelola ketegangan sipil.
Dialog dan komunikasi yang efektif adalah kunci untuk menghindari eskalasi kekerasan. Seperti kata Amitya, “Penyampaian aspirasi bisa dilakukan dengan berbagai bentuk, tanpa harus mengorbankan nyawa.”
Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan manusiawi, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.