Hidup berbahagia adalah tujuan dasar manusia, sementara untuk bahagia perlu sejahtera. Maknanya bahagia dan sejahtera memiliki relevansi yang sangat erat dan kuat.
Alasan ini pula yang mendasari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menetapkan Hari Kebahagiaan Internasional (International Day of Happiness) yang diperingati setiap tanggal 20 Maret.
“Ternyata ada Hari Kebahagiaan di dunia ya,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Makanya update berita di poskota , jangan cuma update status aja. Kemarin bukber di warteg aja update status di WhatsApp,” ujar Yudi menimpali.
“Loh jangan salah, bukber di warteg itu terasa lebih nikmat, dengan menu yang tersaji tak ubahnya kita berbuka puasa di rumah sendiri,” celatuk Redy Ayu Bahari, pedagang warteg berpromosi.
“Nah tuh, saya dapat pendukung baru,” kata Heri.
“Kita kembali ke topik awal soal kebahagiaan,” ujar mas Bro. “Selama ini hari kebahagian yang sering kita peringati adalah ultah, hari pernikahan. Bagi yang belum berkeluarga, mungkin ada peringatan, ‘hari jadian’.”
“Dari laman website PBB, Hari Kebahagiaan Internasional ditetapkan pada 12 Juli 2012, pertama kali diperingati tahun 2013. Tujuannya begitu mulia, menekankan pentingnya kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kebijakan pembangunan global,” urai Heri.
“Bahagia itu tidak melulu tergantung pada materi.Tak sedikit yang kaya harta, tapi hidupnya menderita. Banyak faktor lain ikut mempengaruhi,” kata Yudi.
“Kalau itu jelas.Keseimbangan emosional, kesehatan, hubungan sosial dan lingkungan, akan mempengaruhi derajat kebahagiaan,” kata mas Bro.
“Karenanya menjadi kewajiban bagi semua pihak, tak terkecuali pemerintah, lembaga, badan, komisi, institusi dan swasta untuk senantiasa menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi kebahagiaan,” kata Heri.