3 Aset Pelindung Harta Kekayaan Menurut Robert Kiyosaki, Apa Saja?

Minggu 27 Okt 2024, 09:02 WIB
Robert Kiyosaki. (tangkapan layar youtube/The Rich Dad Channel)

Robert Kiyosaki. (tangkapan layar youtube/The Rich Dad Channel)

POSKOTA.CO.ID - Pakar keuangan pribadi Robert Kiyosaki menyuarakan keprihatinannya mengenai stabilitas dolar AS dalam sebuah tweet baru-baru ini.

Dia menyalahkan posisi dolar saat ini pada keputusan yang diambil beberapa tahun yang lalu, khususnya ketika muncul keputusan Presiden Nixon untuk mengeluarkan dolar dari standar emas pada 1971.

Menurut Kiyosaki, sejak saat itu, dolar AS telah ditopang oleh obligasi dan treasury pemerintah, yang menurutnya sama saja dengan uang palsu.

Penulis buku keuangan Rich Dad Poor Dad itu, sebagaimana dilansir Cryptopolitan, Minggu, 27 Oktober 2024, berpendapat, pergeseran ini memiliki efek jangka panjang pada ekonomi AS.

Sebelum 1971, dolar AS dipatok ke emas dan dengan demikian memiliki patokan nilai yang stabil dibandingkan mata uang lain yang beredar.

Namun, keputusan Presiden Nixon untuk menghentikan penukaran dolar menjadi emas mengakhiri sistem nilai tukar yang dipatok ini dan menjadikan dolar sebagai mata uang fiat. 

Akibatnya, nilai dolar sekarang terikat pada sentimen pasar dan utang pemerintah.

Mengikis Nilai Dolar

Kiyosaki menjelaskan, kondisi terseut membuat nilai dolar kian terkikis. Dia juga menunjukkan, setelah Federal Reserve mulai mencetak uang untuk mengatasi utang, daya beli dolar terus menurun.

Ia mengatakan, ketersediaan uang dalam perekonomian melalui pencetakan telah menyebabkan inflasi, yang telah mengurangi nilai mata uang nasional dan membuat produk dan layanan menjadi mahal.

Aset Alternatif

Kiyosaki menekankan, inflasi ini mengakibatkan tabungan dalam bentuk dolar AS semakin berbahaya. Dengan kenaikan harga, daya beli uang menurun dan karenanya nilai uang dalam hal tabungan berkurang seiring waktu.

Menurutnya, rekening tabungan konvensional tidak cocok untuk menyimpan kekayaan dalam lingkungan ini. Kiyosaki mendorong para investor untuk mencari peluang investasi lain yang tidak terlalu terpengaruh oleh inflasi.

Berita Terkait
News Update