ADVERTISEMENT

Dugaan Kepsek SMK di Bogor Hamili dan Paksa Eks Muridnya Aborsi, Korban Takut Lapor Polisi

Senin, 4 Maret 2024 13:16 WIB

Share
Perempuan berinisial A, korban pemaksaan aborsi oleh seorang Kepsek SMK di Bogor urungkan melapor ke polisi karena alasan takut. (Foto: Poskota.co.id/Panca Aji)
Perempuan berinisial A, korban pemaksaan aborsi oleh seorang Kepsek SMK di Bogor urungkan melapor ke polisi karena alasan takut. (Foto: Poskota.co.id/Panca Aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

BOGOR, POSKOTA.CO.ID - Wanita berinisial A (25) yang diduga dipaksa aborsi oleh mantan kepala sekolah (Kepsek) SMK di wilayah Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor urungkan niat melapor ke polisi.

A mengaku takut masuk bui jika melaporkan dugaan pemaksaan aborsi tersebut kepada pihak kepolisian.

Korban berinisial A mengaku telah melakukan hubungan gelap dengan Kepseknya sejak duduk di bangku kelas 2 SMK, atau sekitar tahun 2015.

A pun mengaku, dipaksa 2 kali menggugurkan kandungannya karena si mantan Kepsek ogah menikahinya. Ia menggugurkan kandungannya di tahun 2018 dan 2022.

"Takut ikut kena dipenjara, takutnya udah habis materi dan badan terus masuk bui bareng dia," kata A, Senin (4/3/2024). 

Alhasil, A pun mengurungkan niatnya membuat Laporan Polisi (LP), walaupun sudah berada di Mako Polres Bogor.

Sementara itu, Kanit Pusat Pengembangan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Bogor Ipda Ndaru Cahya Diana membenarkan A sempat mendatangi Polres Bogor.

Korban berniat melaporkan Kepsek salah satu SMK di Bogor yang diduga telah memaksanya untuk menggugurkan kandungannya.

"Betul (sempat datang ke Polres Bogor)," kata Ndaru, Minggu (3/3/2024).

Namun, ditanya soal diterima atau tidaknya laporan dari A, Kanit PPA Sat Reskrim Polres Bogor ini tidak menjawab. 

Halaman

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT