Self Harming: Sebuah Kecanduan yang Berbahaya dan Bentuk Pelarian dari Masalah yang Tidak Efektif

Minggu, 10 Desember 2023 23:28 WIB

Share
Ilustrasi Self Harming kesehatan mental psikologis manusia. (Ist.)
Ilustrasi Self Harming kesehatan mental psikologis manusia. (Ist.)

Oleh Mahasiswi Universitas Brawijaya Jurusan Psikologi Angeline Lee


Apakah kamu pernah merasa begitu tertekan, sedih, atau marah, sehingga kamu ingin melampiaskan perasaan itu dengan cara yang menyakitkan? Apakah kamu pernah sengaja melukai diri sendiri dengan benda tajam, membakar kulitmu, atau melakukan hal-hal berbahaya lainnya? Jika ya, maka kamu mungkin termasuk dalam orang-orang yang melakukan self harming.

Self harming atau perilaku menyakiti diri sendiri adalah tindakan sengaja yang dilakukan seseorang untuk melukai tubuhnya sendiri tanpa niat bunuh diri. Perilaku ini biasanya dilakukan sebagai bentuk pelarian dari masalah atau stres yang dihadapi, atau sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Self harming juga bisa menjadi cara untuk menghukum diri sendiri karena merasa bersalah, tidak berharga, atau tidak dicintai. Beberapa contoh perilaku self harming adalah memotong, membakar, menggaruk, meninju, atau menelan benda tajam.

Perilaku self harming adalah sebuah kecanduan yang berbahaya karena dapat menyebabkan luka fisik yang parah, infeksi, bekas luka, atau bahkan kematian. Selain itu, perilaku ini juga dapat menimbulkan masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma, atau gangguan kepribadian.

Perilaku self harming juga tidak efektif sebagai cara untuk mengatasi masalah karena hanya memberikan rasa lega sementara dan tidak menyelesaikan akar masalahnya.

Menurut data dari World Health Organization (WHO), sekitar 10 persen sampai 15 persen remaja di seluruh dunia pernah melakukan self harming setidaknya sekali dalam hidup mereka. Di Indonesia, prevalensi self harming pada remaja berkisar antara 5 persen sampai 10 persen. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku self harming antara lain adalah lingkungan keluarga, teman, sekolah, media, atau budaya.

PEMBAHASAN
Jenis-Jenis Perilaku Self Harming yang Sering Dilakukan oleh Remaja Perilaku self harming yang sering dilakukan oleh remaja dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu self harming yang bersifat superfisial atau minor, dan self harming yang bersifat moderat atau mayor. 

Self harming yang bersifat superfisial atau minor adalah perilaku self harming yang tidak menimbulkan luka yang dalam atau berdarah, seperti menggaruk, mencubit, mencakar, atau meninju diri sendiri. Self harming yang bersifat moderat atau mayor adalah perilaku self harming yang menimbulkan luka yang dalam atau berdarah, seperti memotong, membakar, menusuk, atau menelan benda tajam.

Menurut studi yang dilakukan oleh Sinha et al. (2021) di India, perilaku self harming yang paling umum dilakukan oleh remaja adalah memotong, yang dilakukan oleh sekitar 70 persen remaja yang melakukan self harming. Selain itu, sekitar 15% remaja melibatkan diri dalam perilaku membakar sebagai bentuk self-harming. Perilaku self harming yang jarang dilakukan oleh remaja adalah menelan benda tajam, yang dilakukan oleh sekitar 5% remaja yang melakukan self harming.

Halaman
Editor: Novriadji Wibowo
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar