KPK: Hakim Gazalba Saleh Terima Uang Hingga 7,5 Miliar

Kamis, 30 November 2023 21:49 WIB

Share
Gedung KPK.(Foto: Andi Adam Faturahman)
Gedung KPK.(Foto: Andi Adam Faturahman)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID -  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar skandal yang dilakukan Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Gazalba Saleh. 

Dalam penelusuran KPK, Gazalba Saleh membeli rumah senilai Rp7,5 miliar secara tunai dari duit gratifikasi dari pengurusan beberapa kasus semenjak 2018.

Di antaranya adalah, kasasi yang diajukan eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, kasasi Komisaris PT Sekawan Intipratama, Rennier Abdul Rachman Latief, dan peninjauan kembali (PK) eks Anggota DPRD Kota Samarinda Jafar Abdul Gaffar terkait kasus pungli di Pelabuhan Samarinda.

“Untuk perkara yang pernah disidangkan dan diputus GS terdapat pengondisian terkait amar isi putusan yang mengakomodir keinginan dan menguntungkan pihak-pihak berperkara yang mengajukan upaya hukum di MA,” kata Direktur Penindakan KPK Asep Guntur dalam keterangannya, Kamis, (30/11/2023).

“Dari pengondisian isi amar putusan tersebut, GS menerima pemberian sejumlah uang sebagai bentuk penerimaan gratifikasi diantaranya untuk putusan dalam perkara kasasi dengan terdakwa Edhy Prabowo, Rennier Abdul Rahman Latief dan peninjauan kembali dari terpidana Jafar Abdul Gaffar,” sambungnya.

Asep menyebut duit yang ditemukan mencapai Rp15 miliar. Penerimaan gratifikasi ini dilakukan hingga 2022.

Setelah dia menerima duit, Gazalba diduga membeli aset bernilai ekonomis. Sehingga dia dijerat dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Aset yang diduga berasal dari penerimaan gratifikasi itu berupa satu unit rumah seharga Rp7,6 miliar yang dibeli secara tunai di sebuah cluster di kawasan Cibubur, Jawa Timur. Kemudian, Gazalba juga membeli satu bidang tanah beserta bangunan diwilayah Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan dengan harga Rp5 miliar.

“Didapati pula adanya penukaran sejumlah uang ke beberapa money changer menggunakan identitas orang lain yang nilainya hingga miliaran rupiah,” jelas Asep.

Edhy mengajukan kasasi terkait kasus korupsi ekspor benih lobster atau benur yang ditangani KPK. Dari pengajuan kasasi ini, Mahkamah Agung ketika itu menyunat hukumannya menjadi sembilan tahun menjadi lima tahun.

Halaman
Reporter: Wanto
Editor: Fernando Toga
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar