Kontrak Masih Panjang, KPK Fokus Selidiki Dugaan Korupsi Pengadaan LNG di Pertamina

Selasa, 7 November 2023 21:46 WIB

Share
Komisaris PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. (ist)
Komisaris PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. (ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Komisaris PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menjelaskan, kontrak terkait pengadaan liquefied natural (LNG) dengan Corpus Christi Liquefaction (CCL) yang merupakan perusahaan dari Amerika Serikat masih berjalan hingga saat ini. 

Menurut Ahok, hal tersebut yang menjadi fokus penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dalam mengungkap dugaan korupsi pengadaan liquefied natural gas (LNG) yang menjerat eks Dirut PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan.

“Kontraknya panjang. Makanya ini jadi bahan lah di sini. Kamu tanya sama mereka (penyidik) tapi ini kontraknya panjang banget ini,” tegas eks Gubernur DKI Jakarta tersebut usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Selasa, (7/11/2023).

Dalam kasus ini, KPK menduga proses pengadaan LNG sebagai sebagai alternatif mengatasi kekurangan gas di Tanah Air tak dikaji. Karen Agustiawan yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina juga tak melaporkan keputusannya ke dewan komisaris.

“GKK alias KA secara sepihak langsung memutuskan untuk melakukan kontrak perjanjian dengan perusahaan CCL (Corpus Christi Liquefaction) LLC Amerika Serikat tanpa melakukan kajian hingga analisis menyeluruh dan tidak melaporkan pada Dewan Komisaris PT Pertamina Persero,” kata Ketua KPK Firli Bahuri.

Firli mengungkap pelaporan seharusnya dilakukan karena akan dibawa dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Sehingga tindakan GKK alias KA tidak mendapatkan restu dan persetujuan dari pemerintah saat itu,” tegasnya.

Karena perbuatannya, membuat negara merugi sekitar 140 juta dolar Amerika Serikat atau Rp2,1 triliun. Penyebabnya, kargo LNG yang dibeli dari perusahaan CCL LLC Amerika Serikat menjadi tidak terserap di pasar domestik.

Akibatnya kargo over supply, PT Pertamina akhirnya membuat penjualan di pasar internasional dengan kondisi rugi. Padahal, komoditas ini juga tak pernah masuk ke Indonesia dan digunakan seperti tujuan awalnya. (Wanto)
 

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar