Bukan Anti Kritik

Rabu, 7 Juni 2023 05:57 WIB

Share
Suara warga yang diabaikan. (Ilustrasi)
Suara warga yang diabaikan. (Ilustrasi)

Oleh Joko Lestari, wartawan poskota


DALAM negara demokrasi, kritik itu tidak dilarang, bahkan menyampaikan aspirasi berupa kritikan,dukungan, atau penyampaian pendapat itu dilindungi undang – undang.

Indonesia sebagai negara demokrasi, tentu meniscayakan kritik. Lebih- lebih jika pilar demokrasi dirasa masih kurang lega mewadahi aspirasi.

Kritik juga diperlukan bagi setiap orang, siapa pun dia, apa pun status dan latar belakangnya untuk perbaikan. Ini jika kritik dilakukan secara baik dan benar, penuh etika dan kesopanan.

Ini juga jika kritik dilakukan secara mendasar, bukan asal kritik, tetapi dilandasi data, realita dan fakta yang sebenarnya. Bukan kritik yang hanya bertengger di atas dasar berita hoax.

Kalau sumber informasi untuk mengkritik berasal dari hoax, maka isi kritikan menjadi dua kali lebih hoax.

Jika demikian adanya, maka siapa pun yang hoax akan menjadi lebih hoax, yang dikritik atau pun yang mengkritik?

Sering dikatakan kritik itu saran atau masukan. Memang, pada dasarnya kritik, saran dan masukan beda kata dan makna, tetapi hendaknya kita bijak menyikapi dan pandai.

Arti kritik, merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Maknanya ada pertimbangan baik dan buruk di dalam menyampaikan tanggapan, kalaupun disebut kecaman. Tidak semata menguak semua keburukan, tetapi mengangkat pula sisi positif. Dan, akan lebih bijak lagi jika, disertai solusi.

Itu yang seringkali dinamakan kritik konstruktif. Kritik membangun yang bersifat memperbaiki dari yang buruk menjadi baik. Dari yang kurang menjadi lebih dan yang sudah baik menjadi sempurna.

Di tahun politik seperti saat ini, saling kritik bukan hal yang tabu lagi. Bahkan, mengkritik kader partai politik atau yang disampaikan kader partai politik, berseliweran tiada henti.

Tak jarang, ada di antara elite politik menyikapi kritik tidaklah bijak, jika tidak dikatakan emosional.

Padahal kita tahu, orang bijak tidak layak takut atas risiko kritik. Ingat, seseorang tidak akan menjadi hina dan jatuh harga dirinya karena dikritik.

Orang yang optimistis dan dinamis serta ingin maju, berharap adanya kritik karena dapat membangun motivasi, dan membuat rasa percaya diri lebih tinggi.

Satu hal, jangan ubah kritik menjadi kebencian, permusuhan dan pertentangan yang bisa menjadi embrio pembelahan dan perpecahan.

Jangan nodai tahun politik dengan penuh intrik, tetapi hadirkan sikap simpatik dalam memenangkan kontestasi. Perlu keteladanan para elite dan petinggi partai politik untuk menghadirkan kritik konstruktif serta bijak merespons kritikan dengan menjauhkan sikap “anti kritik”. (*). 
 

Editor: Deny Zainuddin
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar