Nantang Perang dan Sensasi Murahan

Jumat, 2 Desember 2022 06:47 WIB

Share
Kepala BP2MI Benny Rhamdani dan Presiden Jokowi. (Foto: ist).
Kepala BP2MI Benny Rhamdani dan Presiden Jokowi. (Foto: ist).

TAK ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ada yang teriak-teriak ngajak perang. Kayak jagoan saja. Padahal, dia hanya cari muka. Entah siapa yang membuang mukanya, hingga perlu dicari-cari.

Atau, mukanya memang sudah lama tak nampak di permukaan. Karena tak ada prestasi yang perlu diapresiasi. Sehingga ia memilih jalan dengan cara cari sensasi.

Benny Rhamdani, seorang pejabat negara. Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Di depan Presiden Jokowi, ia minta izin bertempur melawan serangan lawan atau oposisi.

Tentu ucapan yang sangat tidak layak disampaikan di era demokrasi saat ini. Apalagi disampaikan seorang pejabat negara. Meski bisa dimaklumi, bila jabatan yang dia emban merupakan bentuk balas budi. Menjadi pejabat, bukan karena prestasi.

 

Permintaan yang mengarah pada penggunaan fisik itu tak selayaknya diutarakan Benny, seorang relawan Jokowi. Karena kita tak lagi hidup di negara otoriter, yang membenarkan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian masalah.

Sekarang kita hidup dalam negara demokrasi. Penyelesaian berbagai persoalan seharusnya melalui dialog dan musyawarah. Menyelesaikan masalah dengan kekerasan, hanya dilakukan oleh preman jalanan. Mereka mengedepankan otot ketimbang otak.

Karena itu, sudah sepantasnya Presiden Jokowi mencopot Benny dari Kepala BP2MI. Agar instansi pemerintah tidak dipimpin oleh orang yang menyukai kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Karena orang seperti ini tidak sejalan dengan semangat reformasi. (gusmif)

  

 

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar