Nah Ini Dia: Bujang Lapuk Dilarang Nikah Bapak Dikirim ke Alam Barzah

Sabtu, 26 November 2022 07:12 WIB

Share

COWOK usia 34 tahun belum nikah, adalah masa-masa kritis bagi Rustam, sehingga dia disebut bujang lapuk. Dia ingin segera menikah, tapi sayang ayah tak mengizinkan dengan alasan Rustam agak kenthir (gila). Tiap malam selalu kedinginan kok dilarang nikah, Matroji, 64, sang ayah langsung saja dikirim ke alam barzah.

Nikah itu sunah rosul, jika sudah mampu dianjurkan segera menikah ketimbang pacar keduluan setan (baca: zina). Tapi ngempani anak orang itu kan tak cukup modal titit, harus punya duit. Memangnya orang berumah tangga kenyang dengan makan cinta? Oleh karena orangtua banyak yang melarang anak lelakinya buru-buru menikah. Intinya, menikah itu tak hanya modal bonggol, tapi juga benggol.

Rustam sebagai bujang lapuk di Bukit Kemuning Lampung Utara, ingin segera menikah, tapi ternyata ayah melarangnya. Alasannya, di samping anak lelakinya ini pernah sakit syaraf sampai dipasung segala, juga tak punya pekerjaan jelas. Nantinya kan malah bikin repot orangtua. Ada istri ada anak, semua jadi beban orangtua. Anak dan mantu hanya jadi pabrik anak doang!

Tapi Rustam memaksa, dengan alasan sudah tak tahan setiap malam kedinginan. Lalu Matroji pun bertanya, siapa calon istrinya? Jawab Rustam, masih mau cari, yang penting sudah ada izin prinsip dulu. Bapak pun geleng-geleng kepala. “Kok kamu jadi kayak Nasdem sih, sudah punya Capres Anies tapi tak kunjung ketemu Cawapresnya.” Ujar sang ayah.

Rustam sudah merajuk, tapi  Matroji tetap menggeleng.  Rustam pun marah, jadi ingat perlakuan ayahnya terhadap dirinya dulu. Kena penyakit gila, bukan dibawa ke RS Jiwa Grogol Jakarta atau Kramat Magelang, tapi malah dipasung. Ingat itu dia jadi ingin balas dendam.  Matroji pun ditusuk pisau hingga wasalam. Saat diperiksa polisi dia mengaku dendam pada ayahnya. “Dia itu bapak yang tidak tanggung jawab,” kata Rustam.

Mau bagaimana lagi, rejeki ayah juga nanggung! (GTS)

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar