Tergoda Jabatan

Kamis, 15 September 2022 05:46 WIB

Share

“.. belakangan integritas acap tergoda akibat pengaruh gaya hidup era kini yang serba instan, pragmatis dan cenderung konsumtif. Termasuk keinginan memperoleh jabatan secara instan.”  -Harmoko-
 
Meraih jabatan tertinggi di negeri ini hingga presiden pada kekuasaan  eksekutif, ketua DPR di legislatif  tidak “diharamkan” secara agama, tidak pula dilarang oleh undang – undang. Yang tidak dibenarkan, jika cara memperolehnya melalui pemaksaan kehendak, penekanan dan penindasan kedaulatan rakyat, lebih – lebih kepada pihak yang lemah.

Obsesi merengkuh kekuasaan adalah manusiawi, tetapi menjadi tidak manusiawi jika mengebiri hak asasi, menutup rapat pintu aspirasi sebagai inti dari dari demokrasi.

Negara membuka peluang kepada semua warganya menduduki jabatan politis, menjadi pejabat publik selagi memenuhi persyaratan dan ketentuan sebagaimana peraturan perundangan yang berlaku.

Persyaratan ini sebagai filter, menutup pintu bagi mereka yang tidak berkualitas, tidak ber-kapabilitas dan akseptabilitas. Namun, di sisi lain semakin membuka peluang bagi mereka yang berkemampuan finansial, dekat dengan kekuasaan eksekutif maupun legislatif, meski tidak didukung kualitas diri.

Kondisi semacam ini menjadi daya tarik bagi yang “berkemampuan” untuk tergoda atau sengaja digoda jabatan politis. Tak sedikit yang awalnya jauh dari urusan politik, mendadak tampil di panggung politik mendeklarasikan diri menjadi calon kepala daerah.

Tak jarang yang semula juragan kontrakan, tuan tanah kemudian tampil menjadi caleg. Awalnya aktif ngurusi kuliner, properti didaulat pendukung dan parpol pengusungnya menjadi kandidat walikota/ bupati ataupun gubernur.

Jika kader parpol terobsesi jabatan publik, bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi karena parpol adalah penggodok – kawah candradimukanya calon pejabat publik.

Bukan kader parpol, lantas direkrut calon pejabat publik juga sah – sah saja sepanjang sang kandidat mumpuni dalam segala hal, termasuk kemampuan leadership. Ingat pejabat publik bukan hanya ngurusi satu sektor usaha, tetapi memimpin rakyat dengan beragam latar belakangnya.

Diperlukan kemampuan berkomunikasi dengan khalayak guna menyerap aspirasi, dan segera mencarikan solusi, lebih – lebih di era sekarang ini, di tengah berbagai ancaman krisis, di tengah ketidakpastian gejolak ekonomi dunia.

Selain dituntut kecerdasan intelektual, tak kalah pentingnya kecerdasan moral untuk membangun integritas bangsa. Ini menjadi penting mengingat integritas adalah cerminan keteguhan hati dalam menjunjung tinggi nilai – nilai dan keyakinan, seperti sering dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Sayangnya, belakangan integritas sebagai filter jati diri bangsa acap tergoda akibat pengaruh gaya hidup era kini yang serba instan, pragmatis dan cenderung konsumtif. Termasuk keinginan memperoleh jabatan politis secara  instan. Akhirnya sodok sana – sodok sini, gelap mata hati dikelilingi rayuan dan godaan meraih jabatan dan kekuasaan yang sudah di depan mata.

Halaman
Editor: Deny Zainuddin
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar