MESIR, POSKOTA.CO.ID - Suasana Ramadan terasa indah dan magis di Kairo Mesir.
Ini terjadi karena kehadiran lentera berwarna-warni di seluruh sudut kota Kairo Mesir.
Mulai dari jendela dan balkon rumah, toko, jalan-jalan dan gang, cafe, dan pasar tradisional.
Lentera ini dikenal dengan nama fanoos atau dalam bahasa Arab berarti “cahaya”.
Lentera memang menjadi ciri khas utama tibanya bulan Ramadan di Mesir dan menjadi pemandangan umum selama 30 hari bulan puasa.
Yang membedakan lentera Ramadan atau fanoos ini dengan lainnya adalah cerita rakyat dan desain Islam yang ada di dalam setiap lentera yang menunjukkan perjuangan cahaya melawan kegelapan.
Namun harga pangan, buah-buahan kering, pakaian, termasuk lentera naik. Penyebabnya antara lain dunia masih belum pulih dari penyebaran luas virus corona dan dampak invasi Rusia ke Ukraina. Demikian dikutip dari Reuters.
“Ada kenaikan tajam harga ayam, minyak, kacang-kacangan, dan banyak lainnya. Semua harga naik," kata Omnia Reda.
Kurma menjadi salah satu kebutuhan esensial saat Ramadan. Karena secara tradisional umat Muslim berbuka puasa mengikuti tata cara Nabi Muhammad SAW yaitu dengan seteguk air dan beberapa butir kurma.
Inflasi di Mesir telah naik dari 8 persen pada bulan Januari, menjadi 10 persen pada bulan Februari. Sekitar sepertiga dari 103 juta orang di Mesir hidup di bawah garis kemiskinan.
Tekanan inflasi akibat pandemi virus corona dan perang Rusia di Ukraina mendorong Bank Sentral Mesir menaikkan tingkat suku bunga utama, yang pertama sejak tahun 2017, pada awal Maret lalu.
Langkah ini membuat pound Mesir anjlok menjadi 18 per 1 dolar AS. Sebelumnya mencapai 15,6 pound per 1 dolar AS.
Meskipun demikian warga Kairo tetap semangat menyambut bulan suci Ramadan.
“Isu-isu ini menimbulkan dampak pada pasar Mesir dan harga-harga naik. Devaluasi pound Mesir dan kenaikan nilai tukar dolar Amerika menaikkan banyak harga barang. Tetapi saya harap semua akan membaik. Saya berharap yang terbaik untuk semua orang," ujar Abdel Rahman Saleh.
“Kami hanya berdoa agar kenaikan harga-harga ini akan segera berakhir," tambah Hassan Ali Hassan. ***
