Sekjen Barikade 98 Kecam Isu PCR dan Reshuffle: Nanti Kami Buka Siapa 'Hantu Belau' di Balik Isu Ilusi Ini

Kamis 04 Nov 2021, 17:44 WIB
Sekjen Barikade 98, Arif Rahman bersama Menteri BUMN, Erick Thohir. (foto: ist)

Sekjen Barikade 98, Arif Rahman bersama Menteri BUMN, Erick Thohir. (foto: ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, dalam dua tahun terakhir berdampak krusial tidak hanya terhadap ekonomi melainkan juga politik.

Penanganan pandemi di Indonesia tak pelak menuai sorotan meski relatif terkendali, dilihat dari jumlah korban yang berhasil ditekan seminimal mungkin.

Namun, Sekjen Barikade 98, Arif Rahman menegaskan, kerja keras pemerintah bersama masyarakat dalam rangka memerangi pandemi ini belum usai. Kendati saat ini kasus sudah melandai, namun dunia tengah bersiap menghadapi gelombang ke-3.

Arif mengecam adanya sejumlah isu yang secara langsung memfitnah pemerintah selaku penanggung jawab penanganan pandemi.

“Apalagi saya lihat isu ini semata-mata diluncurkan hanya untuk menyalurkan hasrat politik terkait ilusi akan adanya reshuffle,” ujarnya.

Arif menilai isu ini digarap secara masif dan sistematis, karena selain melibatkan sejumlah buzzer politik, isu ini juga digawangi oleh media mainstream. Tentu tak mudah mengorkestrasi isu sedemikian rupa. 

Dia menyayangkan isu-isu murahan ini digunakan untuk mendorong wacana pergantian kabinet tanpa mempertimbangkan dampak psikologis ke masyarakat.

“Isu-isu yang digunakan pun sebenarnya lemah dan tidak punya fakta, namun karena disajikan dengan bahasa yang mencekam oleh media mainstream dan diamplifikasi oleh buzzer, maka seolah-olah yang diberitakan ini adalah sebuah fakta,” ujarnya.

Dia menukil salah satu isu tentang harga PCR yang terlalu mahal, terutama jika dibandingkan dengan India yang hanya Rp96 ribu.

Dia menegaskan, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, swab test India menggunakan produk dalam negeri yang belum tersertifikasi internasional.

Padahal, jika dibanding negara-negara di dunia, Indonesia termasuk 10 persen negara dengan tarif swab paling terjangkau.

Berita Terkait

News Update