Download E-Paper

Berondong Tersia-siakan Karena Istri Cari PIL Lagi

Sabtu, 02 Januari 2021 - 07:30

KASIHAN Sapardan (36), dari Palembang ini. Sudah rela jadi “berondong” Maskuriah (48), masih disia-siakan juga. Pejabat kantor BUMN itu malah cari PIL, temannya di BUMN bernama Juwadi (40), yang lebih perkasa. Tapi saat keduanya kimpoy di rumah si cowok, digerebek oleh Sapardan bersama warga.

            Lelaki mau jadi berondong biasanya karena butuh jaminan sosial non pemerintah dari pihak istri. Istri berduit, sedangkan si pria kayak walang sangit. Jadi fungsi suami pada akhirnya sekedar –maaf– jadi pajantan doang! Tidak usah mencari benggol, yang penting bonggol jaminan mutu. Sayangnya, tak semua berondong bisa tetap rosa-rosa macam Mbah Marijan, sehingga istri terpaksa cari berondong alternatip.

            Sapardan, warga Palembang, sebelum jadi suami Maskuriah, jika pinjam istilah Menhan Prabowo, adalah anak yang tinggal di selokan. Tapi setelah dipungut –dinikahi– Maskuriah jadi naik derajat. Dari perjaka tua pengangguran, tiba-tiba jadi orang terhormat karena menjadi suami pejabat personalia BUMN. Dulu Sapardan tak direken orang, kini rekening banknya banyak saldo.

            Karena tak punya keahlian dan pekerjaan, kerja Sapardan ya hanya petentang-petenteng macam centeng jaman Balanda. Tugas intinya hanyalah sekedar untuk pemuas syahwat istri belaka. Karenanya gizi Sapardan harus terjamin, empat sehat lima sempurna. Sudah begitu masih ditambah asupan berupa makan telur mentah, madu, dan kalau perlu ginseng didatangkan langsung dari Korea.

            Tapi rupanya Sapardan ini hanya bagus di awalnya, lama-lama letoy macam sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju. Tapi Maskuriah tak setega Presiden Jokowi untuk mereshufle suami, dia tetap dipertahankan di posnya. Cuma, diam-diam oknum pejabat BUMN itu punya PIL baru, seorang pengawas di BUMN yang sama. Juwadi ini meski usia lebih tua dari Sapardan, tapi “permainan”-nya sampai mentok gardan!

            Sejak Maskuriah kenal Juwadi dan kemudian kenil, uang saku untuk Sapardan menurun drastis. Malam hari juga sudah jarang piket. Ibarat mobil, suami berondong ini hanya ditongkrongkan di garasi, jarang dipakai, dipanasi mesinnya juga kagak! Benar-benar Sapardan mulai disia-siakan sebagai suami.

            Lama-lama Sapardan jadi curiga, dan mulailah bikin TPF independen secara diam-diam. Ketika istri tidur, HP milik Maskuriah dijelahahi. Sampai kemudian dia menemukan fakta ada pesan-pesan WA ke nomer tertentu yang dikirim secara massif dan intensip. Dan isinya, bukan urusan pekerjaan kantor, tapi soal janjian ke mana dan ke mana. “Kurang ajar, katanya pengawas malah perlu diawasi,” gerutu Sapardan yang mulai tersingkir.

            Walaupun fungsinya hanya suami kaleng-kaleng, tapi Sapardan tak rela disia-siakan sedemikian rupa. Mau protes sebenarnya, tapi juga takut jika nanti dicopot dari kabinet rumahtangga. Tapi sebagai suami, di mana harga dirinya jika domain miliknya diambil alih oleh lelaki lain?

            Kembali HP istri ditelisik. Dan ketika menemukan data bahwa keduanya akan kencan di suatu tempat, diam-diam dia membuntuti istri. Ternyata mereka masuk perumahan di bilangan Kalidoni. Sapardan pun lapor Pak RT minta dukungan untuk menggerebeknya. Ditunjukkan pula bukti bahwa dirinya suami yang sah.

            Penggerebekan pun dilakukan. Dan ternyata benar, Maskuriah – Juwadi ditemukan dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun. Keduanya lalu diserahkan ke Polres Palembang. Sapardan minta keduanya dihukum berat.

            Ingat, istri masuk penjara kamu yang njamin siapa? (Tribun/Gunarso TS)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->