Oleh : Sekretaris DKI Marullah Matali
BILA kita melihat fi lm, kerap kali terkesan bahwa orang sabar adalah figur yang tertindas, lugu, mudah ditipu, dan bisanya hanya menangis sendirian. Orang semacam ini menjadi pemenang hanya di episode terakhir saja sedangkan sebelumnya selalu kalah dan me ngalah.
Sedikit banyak tontonan semacam ini masuk ke alam bawah sadar penonton yang membentuk pemahaman bahwa orang sabar adalah orang lemah. Bila kita lihat secara objektif, yang seperti itu sejatinya bukanlah sabar, tapi justru lemah.
Lemah itu secara umum tidak baik. Mukmin yang lebih disukai Allah bukanlah yang lemah tapi yang kuat, seperti diterangkan oleh Nabi dalam hadits berikut: Al mu’minul qowiyyu khoirun wa ahabbu ilal loohi minal mu’minidh dho’iifi , wafi i kullin khoirun. (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan masingmasing adalah baik. HR Muslim).
Lalu sabar itu apa? Makna asli kata ashshabru adalah tahan sehingga ada istilah shobbarol jits-tsah yang secara literal berarti “menyabarkan” bangkai. Maksudnya adalah membuat bangkai menjadi tahan lama tak mudah membusuk.
Sehingga kata sabar maksudnya justru kuat tahan banting dan tak mudah hancur. Dengan makna ini kita bisa memaknai ayat berikut dengan tepat: Qoolal ladziina yadzhunnuuna annahum mulaaqul looh.
Kamm min fiatin qolilatin gholabat fiatan katsiirotan bi idznil laah. Walloohu ma’ash shoobiriin. (Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Betapa banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’ Dan Allah bersama orangorang yang sabar. QS Al-Baqarah: 249).
Ayat tersebut bercerita tentang para prajurit yang tahan banting sehingga meskipun jumlahnya sedikit tetapi mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak.
Merekalah yang disertai oleh Allah dengan kemenangan. Di ayat lain malah lebih jelas bahwa sabar artinya adalah kuat. Allah berfirman: Waka-ayyim min nabiyyin qootala ma’ahuu ribbiyyuuna katsiir. Famaa wahanuu limaa a-shoobahum fii sabiilillaah.
Wamaa dho’ufuu wamas takaanuu. Walloohu yuhibbush shoobiriin. (Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).
Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. QS Ali ‘Imran: 146). Ayat terakhir ini menjelaskan kriteria orang sabar adalah dia yang tidak lemah, tidak mudah patah semangat atau menyerah.
