LEBAK, POSKOTA.CO.ID - Cabe di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, kini semakin pedas. Bukan soal rasa, namun soal harga yang membuat komoditas itu semakin pedas, sehingga warga semakin irit menggunakan cabe.
Diketahui, komoditas cabe di Pasar Rangkasbitung saat ini sudah menembus angka Rp120 ribu per kg. Harga tersebut mengalami kenaikan hingga 2 kali lipat dari harga sebelumnya pada awal tahun 2021 yang hanya Rp60 ribu per kg.
Tentunya warga bertanya-tanya apa yang menjadi alasan dari kenaikan komoditas yang dianggap utama itu oleh Orang Sunda. Usut punya usut, kenaikan cabe di pasar tradisional Rangkasbitung menembus angka Rp120 ribu per kg ternyata lantaran masalah klasik yakni dampak dari cuaca ekstrem yang terjadi sejak Februari 2021.
Baca juga: Jelang Bulan Puasa, Harga Cabe di Pasar Rangkasbitung Makin Pedas
Hal tersebut dikatakan Rosyad, salah satu pedagang cabe di Pasar Tradisional Rangkasbitung. Katanya, selain cabe beberapa komoditas lainnya seperti bawang dan tomat juga naik, yang awalnya hanya Rp25 ribu, sekarang harga bawang sudah Rp35 ribu per kg.
Ia menambahkan, akibat cuaca buruk tersebut, pasokan cabe dan komoditas lainnya pada pasar induk menurun, sehingga menyebabkan distribusi komoditas itu menurun, dan berdampak pada kenaikan harga.
"Karena cuaca ekstrem banyak petani cabe yang gagal panen, sehingga produksinya menurun, dan harganya naik melambung tinggi setiap harinya," kata Rosyad, ketika ditemui di Pasar Rangkasbitung, Selasa (17/3/2021).
Baca juga: Jelang Puasa, Warga Keluhkan Harga Daging Sapi dan Cabe yang Mencekik di Pasar Kramat Jati
Ia mengungkapkan, selain berdampak pada harga, cuaca ekstrem tersebut juga menyebabkan kualitas dari komoditas cabe dan juga komoditas lainnya menurun.
"Harganya emang tapi kulitasnya pada jelek," katanya.
Lebih jauh, Rosyad menuturkan, dampak dari kenaikan harga cabe dan menurunnya kualitas pada komoditas lainnya akibat cuaca esktrem itu sendiri telah juga dirasakan oleh para pedagang, yang mengalami penurunan omzet cukup drastis.