Download E-Paper

Anak Janda Mati Dijerat Gara-gara Ibu Punya WIL

Rabu, 09 September 2020 - 07:30

RASANYA, Bandi (25), layak dihukum mati. Dia hidup terlalu biadab. Hanya karena cemburu janda Karinah (30), pacaran lagi dengan lelaki lain, kok tega-teganya Halim (8), anak si janda dijadikan pelampiasan kemarahan. Bocah tak tahu apa-apa ini dijerat lehernya oleh Bandi sampai mati kehabisan napas.

Cinta itu buta, begitu kata pujangga. Saking butanya, jadi tak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Karena kebutaan cinta, dia jadi berani bertindak di luar peri kemanusiaan, termasuk main teror kepada siapa saja yang telah mengecewakan hatinya. Soal risiko hukum akan menyertai, itu urusan nanti. Yang penting pelampiasan rasa kekecewaan telah ditunaikan.

Bandi, warga Pagar Dewa Kabupaten Tulangbawang (Lampung), tengah punya cem-ceman janda Karinah, warga Tuba Tengah. Sayangnya, dia mencintai janda kempling itu hanya modal hati belaka, tanpa dukungan financial yang memadai, artinya punya pekerjaan tetap.

Bahkan selama pacaran dengan Bandi, janda Karinah yang sering nombok, karena anak muda ini senengnya ditraktir, tak mau modal sendiri. Lha mana ada cewek disuruh jadi pasukan berani tekor terus?. Di mana-mana cowoklah yang harus keluar modal untuk dana operasional kisah kasih antara keduanya. Aneh kan, modal bonggol doang nggak mau keluar benggol!

Pada akhirnya Karinah meninggalkan Bandi yang tanpa bandha (harta). Kebetulan dia ketemu cowok yang lebih menjanjikan. Tapi hal ini membuat Bandi sakit hati, tanpa mau menelaah apa yang menjadi penyebabnya. Dia malah menuduh Karinah cewek mata duitan, begitu mudah cintanya berpindah gara-gara materi. Lha memangnya cinta bisa dinikmati dengan perut kosong. Bisakah Bandi bercinta dalam kondisi lapar, jadi gagal fokus, kan?

Bandi sudah mencoba klarifikasi, kenapa cintanya yang tengah membara tiba-tiba diputuskan dan ditinggalkan? Tapi Karinah tak memberi ruang untuk dialog. Jangankan bertemu empat mata, secara virtual juga ogah. Hal ini membuat hati Bandi semakin luka, luka di atas luka, pokoknya.

Gara-gara keangkuhan Karinah, Bandi ingin memberinya pelajaran. Bukan pelajaran jarak jauh seperti programnya Mendikbud Nadiem, melainkan ingin menyakiti secara phisik dan mental. Bandi ingin menebar teror senyata-nyatanya, sehingga Karinah menyesal akan tindakannya yang ceroboh  dan bodoh itu.

Gagal ketemu Karinah, kemudian Bandi mencari anak lelaki tunggalnya, Halim. Bocah yang tak berdosa yang tak tahu apa-apa itu diajak main ke kebun sawit daerah Bujang Dewa. Di tempat sepi itulah tanpa ba bi bu lagi Halim dijerat lehernya pakai tali sampai tak bisa bernapas  dan mati.

Tentu saja Karinah hanya bisa meratapi jenazah anak lelakinya. Polisi Polres Tulang Bawang segera bertindak dan menemukan Bandi si pembunuh darah dingin itu. Dalam pemeriksaan dia mengakui sengaja membunuh Halim sekedar untuk melampiaskan kekesalannya pada Karinah ibu si bocah.

Bandi memang anak muda koplak, memaki “anjay” boleh nggak? (jpnn/gunarso ts)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->