Download E-Paper

Napi Terpidana Mati yang Kabur dari Penjara Punya Peta Lapas Tangerang

Selasa, 29 September 2020 - 15:44
Lapas Klas I Tangerang, tempat Cai Changpan sempat ditahan. (toga)

JAKARTA - Komisi III DPR RI menduga kaburnya narapidana (napi) terpidana mati Cai Changpan alias Cai Ji Fan (53), karena mendapat "blue print" Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang dari pejabat terkait. Pasalnya, dengan mudahnya bandar narkoba ini menggali lubang yang bisa tembus hingga ke saluran air pemukiman warga.

Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding yang menyebut pasti pelarian yang dilakukan Cai Ji Fa melibatkan orang dalam hingga pejabat terkait. Pasalnya, dengan mudahnya terpidana mati ini kabur dari dalam penjara dengan tahu letak bangunan dan kondisi tanah yang ada dibawahnya. 

"Kalau kita melihat penggalian lubang oleh napi hukuman mati itu penuh dengan kejanggalan. Gali lubang kebawah dengan kedalaman 3 meter, diameter 1,5 meter, lalu panjang keluar sejauh 25 meter sampai 30 meter, itu sudah dirancang dengan baik. Pasnya lagi, bahwa di ujung galian keluar di ujung got perumahan," katanya, Selasa (29/9).

Dari pelarian itu, Sarifuddin menilai hal itu sudah sangat terencana dengan baik dan matang dengan dukungan orang dalam. Pasalnya, bila memang tidak memiliki blue print, pastinya akan tersasar kemana-mana.

"Sehingga memang kita juga beranggapan ini satu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh napi, ketika tidak ada orang yang didalamnya yang melakukan kerja sama," ujarnya.

Dikatakan Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini, saat dirinya melihat kondisi lapas sendiri, di kamarnya juga kita tidak temukan bekas galian tanah. Karena bila seandainya galian sedalam 3 meter dengan panjang 25 meter pastinya ada bekas galian, itu di kemanakan. "Kalau misalnya tidak ada keterlibatan orang didalam yang membuang hasil galian didalam lapas itu tidak mungkin, ini penuh dengan kejanggalan," terangnya.

Keterlibatan orang dalam lainnya, kata Sarifuddin, adalah dengan menyiapkan peralatan untuk menggali. Pasalnya, untuk menggali lubang sepanjang 25 meter dan sedalam 3 meter pastinya memerlukan peralatan. "Alat yang digunakan tidak mungkin pakai tangan, pasti pakai alat. Dari mana alat itu didapat ya pasti dari orang dalam," ungkapnya.

Atas kaburnya Cai Ji Fan, Sarifuddin pun meminta jangan hanya mencopot Kalapas. Pejabat yang ada di atasnya seperti kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM (kanwilkumham) Banten juga harus dicopot. "Menurut saya tidak hanya sebatas kalapas saja yang bertanggung jawab, kepala kantor wilayahnya juga di non aktifkan," tegasnya.

Hal tersebut, kata Sarifuddin harus segera dilakukan karena masalah ini sudah berulangkali terjadi dan yang terakhir di Bali. Namun ketika hanya sebatas dimintai pertanggungjawaban kalapas yang dikorbankan. "Jangan terus berada di zona nyaman, jadi betul-betul mereka harus dimintai pertanggungjawaban atas kejadian ini agar tak lagi terulang," pungkasnya. (Ifand)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->