Download E-Paper

Cerita Anak Jalanan Mengais Rupiah di Tengah Pandemi, Tak Peduli PSBB Tiap Malam Mangkal di Jalan

Rabu, 16 September 2020 - 09:05
Anjal membawa balita di kolong jalan layang Grogol. (ird)

JAKARTA - Malam menjelang dinihari, sebagian warga Ibu Kota sudah terlelap. Tetapi bagi anak jalanan (anjal) yang mengais rezeki di perempatan lampu merah, di tengah deru dan debu, mereka justru baru memulai mengais rupiah.

Angin malam dan asap kendaraan bermotor, bukan jadi halangan bagi bocah-bocah ini. Mereka seakan tidak mengerti negeri ini tengah menghadapi pandemi Covid-19, dan tak paham protokol kesehatan, dan tak peduli masker.

Pemandangan ini bisa dilihat antara lain di perempatan lampu merah Citraland, Grogol, Jakbar, di kawasan Tomang, atau di perempatan Harmoni, Jakarta Pusat. Ketika jam menunjukkan pukul 23;00, di saat tak ada lagi petugas mengawasi, ketika itulah mereka turun ke jalan mengais rupiah.

Anak-anak ini bergerombol di perempatan jalan, atau di kolong jalan layang, menunggu lampu merah menyala. Begitu traffic light menyala merah, bocah-bocah ini menyebar menghampiri mobil dan pengendara motor, sambil menadahkan tangan atau menyodorkan plastik bekas bungkus permen berharap rupiah.

‘Bu.... tolong Bu buat makan,” ucap satu bocah sambil mengintip kaca mobil pengendara. ‘Om..., bagi-bagi rezeki dong,’ ucap bocah lainnya yang menghampiri pengendara motor.

Pemandangan yang membuat miris, beberapa bocah berusia 10-12 tahun menggendong balita sambil meminta-minta. Bahkan balita yang dibawa, terkadang dibiarkan merangkak di atas trotoar. Sementara di balik pilar jalan layang, atau di pojok lampu merah, tampak lelaki dewasa atau ibu-ibu yang mengawasi anak-anak ini dari kejauhan.

Masih Sekolah

Di semua wilayah DKI Jakarta, baik Jakarta Barat, Pusat, Timur maupun Jakarta Utara, anak-anak mencari uang di jalan sudah menjadi pemandangan biasa. Baik siang maupun malam, bocah-bocah mengamen atau mengemis gampang ditemui. Terlepas dari apakah mereka dieksploitasi oleh orang tuanya, atau diperas oleh jaringan, faktanya anak usia sekolah berada di jalanan mencari nafkah.

Salah satu bocah, A (11), yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Dia terpaksa mengamen bersama teman-temannya untuk membantu orang tuanya.

“Saya ngamen buat bantu Ibu, buat makan. Sehari paling tidak dapat Rp50 ribu, baru pulang,” ucapnya saat ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Dia mengaku mengamen di kawasan Kota Tua mulai pukul 17.00 hingga 01.00 WIB.

Sedangkan pagi hingga siang ngamen di kawasan Pasar Pecah Kulit. Orang tuanya juga tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga juga mengamen. “Pagi kalau lagi pas gak sekolah ngamen, baru sorenya ngamen lagi,” ucapnya.

Cari Duit Jajan

Bocah lainnya, G (8), yang biasa ngamen di perempatan lampu merah Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pengamen cilik ini mengaku mengamen demi mendapatkan uang jajan. “Karena lagi gak sekolah, gak dikasih uang jajan. Jadinya cari sendiri,” kata bocah kelas 4 SD ini.

Menurut dia, dalam semalam mengamen, bisa mendapatkan uang paling banyak Rp50 ribu. Uang tersebut dibagi dengan kedua rekannya. “Ya lumayan buat jajan, nanti sisanya disimpan buat beli kuota internet, biar bisa main game,” ujarnya.

Dia mengaku tak takut dirazia karena memang saat ini tidak pernah ada petugas yang menindak. Terlebih, di semua lampu merah juga banyak pengamen yang mencari uang.

“Yang ngamen banyak banget, malah kadang-kadang harus antre giliran dulu. Kalau yang gede sudah pada pulang baru kita bisa gantian,” ungkap bocah ini.

Dia mengaku, orang tuanya tahu kalau dia mengamen bersama dua temannya. “Makanya orang tua nggak nyariiin. Paling cuma pesan saja jangan sampai malam-malam banget,” tuturnya.

Jadi Manusia Silver

Lain halnya dengan Semiyati (28). Dia terpaksa mengajak ke dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah mencari uang di jalanan dengan menjadi manusia silver.

“Semenjak corona saja begini, jadi manusia silver. Ini juga karena ikut-ikutan awalnya, karena banyak ngelihat di jalan-jalan, kalau sebelumnya mah saya ngamen,” tutur Semiyati, di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Warga Kramat Jati ini terpaksa mengajak kedua buah hatinya yang masih berusia 5 tahun dan 9 tahun. “Tadinya malah anak-anak saja (menjadi manusia silver, red), saya cuma ngawasin. Tapi banyak yang bilang katanya ekploitasi. Kok kenapa yang dicat anak-anaknya saja, emaknya malah nggak. Akhirnya ya sudah saya jadi ikutan juga,” paparnya.

Dia dan dua anaknya beroperasi mulai pukul 16:00 hingga malam hari, menyusuri toko-toko dan warung-warung makan di sepanjang Jalan Condet Raya. “Sebenarnya saya juga nggak mau ngecatngecat badan. Tapi mau bagaimana lagi, buat bayar kontrakan bulanannya saja Rp400 ribu , belum lagi buat makan. Dari mana kalau tidak kayak begini,”ucapnya.

Semiyati harus hati-hati dan jangan sampai ketahuan petugas. “Waktu jadi pengamen pernah ditangkap petugas Dinas Sosial dan dikirim ke panti sosial. Jadinya sekarang harus hati-hati,” ucap Semiyati.

Gegap gempita Ibu Kota, bagi mereka agaknya hanya tontonan belaka. Mereka tidak menikmati kemewahan, mereka hanya bisa mencari uang di jalanan. (tim pk/ta/ird)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->