Download E-Paper

Kebijakan yang Serasi

Senin, 14 September 2020 - 07:00
Kopi pagi Harrmoko. (arief)

Oleh Harmoko

PILIH sehat atau kaya? Maunya pilih keduanya, sehat dan kaya. Sehat badannya, sehat jiwanya.Tambah lagi, selain kaya harta benda juga kaya hati. Itu idealnya. Itu semua dapat terengkuh manakala tersedia sarana dan prasarananya, terpenuhi segala fasilitas pendukungnya. Dan, dengan mudah kita semua dapat mengaksesnya.

Sebut saja fasilitas banyak tersedia, sarana begitu melimpah, tetapi jika sulit diakses, boleh jadi kita hanya sebagai penonton. Fasilitas dengan mudah dapat diakses, jika dekat dengan kita, murah harganya, ada di sekeliling kita. Tetapi jika fasilitas saja tak tersedia, kalau pun ada mahal harganya, bagaimana kita dapat memanfaatkannya?

Persoalan sekarang di negeri kita, termasuk beberapa negara lain di dunia, bukan karena sedikitnya fasilitas kesehatan yang tersedia. Bukan pula karena kurangnya rumah sakit dan obat- obatan untuk "menyehatkan" masyarakat di masa pandemi ini.

Tetapi lebih karena kebutuhan mendesak dengan jumlah sangat banyak, dalam waktu bersamaan akibat kian bertambahnya warga yang terpapar virus Corona. Tiada hari tanpa penderita yang wajib dirawat di rumah sakit khusus, dengan penanganan khusus, dan terisolasi pula. Kesediaan sarana dan fasilitas kesehatan khusus, obat- obatan khusus, dengan tim khusus itulah yang sekarang, menjadi "pekerjaan rumah" bagi banyak negara. Termasuk negeri kita.

Kita belum mampu memprediksi kapan pandemi sirna dari negeri ini. Kita juga tidak tahu persis, virus ada di mana. Boleh jadi ada dalam tubuh kita, di sekitar kita atau sanak famili kita, teman kita yang suatu ketika tanpa sengaja harus "berinteraksi."

Atau tanpa dinyana juga tiba- tiba embrio virus hinggap di bagian tubuh kita, dan tercecer ke mana - mana.Maknanya, kita harus menyadari bahwa virus corona saat ini ada di sekitar kita, dan akan hinggap kepada siapa saja.

Kembali ke pertanyaan awal, pilih sehat atau kaya? Jika jawabnya pilih keduanya, maka semua pihak wajib antisipasi diri. Yang pertama tentu menjaga diri sendiri untuk mencegah virus dengan menerapkan protokol kesehatan, di mana pun dan kapan pun.

Dengan menjaga diri sendiri, berarti ikut mencegah penyebaran virus kepada orang lain.Ini berarti pula telah berperan aktif memulihkan kesehatan masyarakat yang menjadi tugas negara.

Saat ini, pemerintah baik pusat maupun daerah sedang dihadapkan kepada dua pilihan: Lebih dulu memulihkan kesehatan masyarakat atau pemulihan ekonomi? Jika boleh, tentu akan memilih keduanya.Tetapi jika harus memilih salah satu, maka harus melihat dulu situasi dan kondisinya.

Ibarat orang sedang sekarat karena sesuatu penyakit kronis, tentu akan menyehatkan dulu dengan mengobati penyakitnya.  Jika orang tersebut sekarat karena kelaparan, tentu harus diberi makan lebih dulu. Memulihkan ekonominya terlebih dahulu agar terhindar dari kelaparan dan keterpurukan.  Lazimnya orang akan  menjatuhkan pilihan utama pada "kesehatan."

Dengan kesehatan yang prima dapat beraktivitas mencari nafkah untuk diri dan keluarganya, sehingga terhindar dari kelaparan. Dengan kesehatan yang prima seseorang dapat menyehatkan ekonomi keluarganya.

Pepatah mengatakan "Di dalam masyarakat yang sehat, negara akan menjadi kuat." Sebaliknya, pada masyarakat yang sakit, negara akan lemah. Masing - masing daerah memang beda situasi yang tentunya akan membedakan pola pengambilan kebijakan. 

Jakarta beda dengan Surabaya, beda pula dengan Jawa Barat dan Banten, meski letaknya bersebelahan. Kebijakan boleh beda, tetapi hendaknya tetap serasi dengan situasi sekelilingnya. Ibarat orang berpakaian, harus serasi dengan diri dan situasinya. Demikian pula waktunya dan tempatnya. (*).

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->