Download E-Paper

Memasuki Usia ke-45, MUI Diingatkan Untuk Terus Mengamalkan Islam Moderat

Sabtu, 08 Agustus 2020 - 09:39
Wamenag yang juga Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Zainut Tauhid Sa'adi.(ist)

JAKARTA - Memasuki hari jadi yang ke-45,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) diingatkan untuk terus mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat).

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Zainut Tauhid Sa'adi saat memperingati Milad MUI ke-45. Jum'at (7/8/2020) malam.

Milad MUI ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Umum MUI KH. Ma'ruf Amin dan seluruh jajaran pimpinan MUI Pusat dan daerah berlangsung secara daring.

Zainut mengajak agar mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat). Islam wasathiyah yang perlu terus kita praktikkan, kita pelihara, dan kembangkan, karena sebagai opsi terbaik yang dipilih untuk menjawab tantangan zaman baik dalam skala lokal, nasional, maupun global.

"Islam wasathiyah akan mengafirmasi sikap dan praktik keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, toleran, dan mengutamakan praktik beragama tanpa kekerasan," ucap Zainut yang juga menjabat wakil menteri agama. 

Menurut Zainut, dirinya meyakini, mempraktikkan Islam wasathiyah dapat mendukung kehidupan beragama yang sehat, harmonis dan rukun, sebagai modal sosial yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa.

Zainut menjelaskan sekarang ini terjadi fenomena post truth, yakni ketika situasi obyektif lebih sedikit pengaruhnya dibanding hal-hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik," ucap Zainut. 

Menurut Zainut, post truth ini yang menyuburkan hoaks dan maraknya konten kebencian, termasuk kebencian atas nama agama. Apalagi masyarakat kita cenderung menyukai judul berita atau informasi yang bersifat provokatif dan adu domba, dan malas melakukan verifikasi atau tabayyun.

"Pada skala global, kita menghadapi isu terkait dengan perang dagang, dan semakin menguatnya populisme atau identitas kelompok, termasuk identitas kelompok keagamaan. Penguatan identitas kelompok ini tidak hanya terjadi di kalangan Islam, namun juga terjadi pada agama lain di dunia, " ucap dia. 

"Hoaks dan ujaran kebencian inilah yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal internal umat beragama maupun antarumat beragama," ucap Zainut. (johara) 

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->