Download E-Paper

Kenalin Ibu Diana Sari, Lady Ojol Jempolan Asal Pademangan, Jakarta Utara

Kamis, 06 Agustus 2020 - 16:33
Lady Ojol, Diana Sari. (ilham)

JAKARTA - Diana Sari (45), tidak pernah membayangkan akan bertarung hidup di jalan raya sebagai lady ojek online (Ojol). Dorongan ekonomi keluarga menjadi faktor utama Diana mau tak mau harus menjalaninya sejak 3 tahun lalu.

Kondisi tersebut juga akibat penghasilan sang suami yang bekerja sebagai buruh pabrik konveksi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi semenjak wabah virus corona atau Covid-19 sang suami dirumahkan lantaran perusahaannya mengurangi jumlah karyawan.

Setiap pagi hingga sore hari, ibu dua anak ini mengantar pesanan makanan dan barang dari konsumennya dari Gunung Sahari, Jakarta Pusat hingga ke kawasan Grogol dan Tomang, Jakarta Barat. Dedikasinya untuk keluarga patut diacungi dua jempol.

"Awal jadi Ojol semua saya antar baik penumpang maupun makanan. Saya sekarang hanya fokus mengantar makanan dan barang. Walau hasilnya tidak sebanding dengan sebelum ada virus corona. Tapi bisa membantu biaya sehari-hari," kata Diana, Rabu (5/8/2020).

Dikatakan, rata-rata setiap hari ia mendapat orderan tidak menentu. "Jika berangkat pagi jam 8 pulang jam 5 sore. Ya rata-rata Rp100 ribu. Kalau dulu sebelum ada virus corona bisa Rp300 ribu," tukas warga Pademangan, Jakarta Utara ini.

Diana mengaku senang jika banyak mendapat orderan mengantar makanan. Bahkan ia terkadang mendapat tips atau uang tambahan dari konsumennya. Uang tips tersebut membantunya untuk menalangi jika ada konsumen yang ingin memesan makanan. 

"Ya alhamdulillah, kadang ada aja konsumen yang baik ngasih uang tips. Kadang mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu," ucapnya.

Meski mendapatkan uang tips, Diana juga mengaku pernah mendapatkan orderan makanan fiktif dari orang yang iseng. Ia menghitung ada 4 kali orderan setelah dibeli tidak ada jawaban. Di antaranya pesan makanan jamur goreng krispi Rp25 ribu dan minuman jenis Thai Tea Rp50 ribu.

"Karena sudah dipesan tidak ada yang bayar terpaksa saya makan sendiri. Sebenarnya kita bisa reimburse ke kantor tapi bayarnya besok, jadi tidak bisa hari itu," ujarnya.

Karena itu, untuk mengantisipasi orderan fiktif, Diana lebih selektif lagi mendapatkan konsumennya, dengan cara menelepon konsumen, melihat orderan konsumen tersebut sudah berapa kali dan pembayarannya tunai atau bayar di tempat.

"Kalau ditelepon merespons dan orderannya juga sering, meski bayar di tempat itu orderan benar. Tapi kalau orderan makannya sedikit dia bayar di tempat, saya akan pastiin lagi kecuali konsumen itu bayar pakai Ovo atau tunai," jelasnya.

Di tengah wabah Covid-19, Diana mengharapkan pemerintah bisa segera menyelesaikan penyebaran virus corona. Pasalnya, beban hidup masyarakat kecil seperti dirinya sangat kesulitan.

"Bantuan dari pemerintah yang selama ini ada ya bisa terus diberikan karena itu sangat membantu keluarga saya," katanya. (ilham/ys)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->