Download E-Paper

Sabar dan Toleran

Senin, 06 Juli 2020 - 07:00

Oleh Harmoko

SABAR dan toleran, dua kata yang sekiranya perlu menjadi panduan hidup dan kehidupan. Dengan bersabar sejatinya kita dituntut mengendalikan diri untuk tidak cepat menyerah terhadap keadaan. Begitu pun toleran berarti menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, meski tak sesuai dengan keinginan hati nurani. Ini berarti tuntutan untuk mampu mengendalikan diri dengan mengendapkan ego pribadi.

Mengapa kita diminta bersabar dan toleran? Jawabnya sabar membawa kita menuju sebuah kesuksesan. Tanpa bersabar, akan membuat seseorang cepat berputus asa sehingga takkan mampu menyelesaikan persoalan.

Jika seseorang sudah berputus asa, sudah terrintang jalan bagaimana mungkin bergerak menuju sebuah pulau impian.

Agama apa pun di dunia ini mengajarkan kepada para pemeluknya, pengikutnya untuk tetap bersabar menghadapi segala macam cobaan dan tantangan, apa pun masalah yang dihadapi.

Sejarah perjuangan bangsa juga mencatat negeri kita merdeka dan berdiri tegak karena para pejuang sabar menghadapi tantangan, tak kenal menyerah berjuang, tak pernah putus asa meraih impian mewujudkan Indonesia merdeka. Hasilnya telah teruji NKRI berdiri tegak hingga saat ini.

Kian tegak kokohnya NKRI juga tak lepas dari sikap toleransi yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia  yang sudah tertanam sejak era perjuangan hingga kini.

Toleransi disadari sebagai tali perekat persatuan di tengah keberagaman. Oleh karena sikap toleransi itulah para pejuang melepaskan ego pribadi, kelompok dan latar belakang kedaerahan, keagamaan, dan kesukuan.

Para pejuang dan pendiri bangsa menyadari begitu pentingnya sikap toleransi yang mampu menciptakan persatuan, membawa banyak manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. Itulah sebabnya sikap toleransi menjadi satu butir panduan dalam pengamalan nilai- nila falsafah bangsa kita.

Toleransi adalah sikap dasar yang harus ada dan dimiliki oleh setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat.

Toleransi adalah menghargai perbedaan pendapat, menghargai tindakan orang lain, meski tak sesuai dengan kehendak dan pendirian kita.

Kemampuan mengendalikan diri, menekan kehendak pribadi demi kepentingan umum – kepentingan yang lebih luas lagi, itulah sejatinya toleransi.

Saat ini, di tengah kian beragamnya pendapat, argumentasi , sikap dan perbuatan akibat semakin mudahnya mengakses berbagai informasi, menuntut kita untuk semakin toleran dalam merespons situasi.

Dituntut semakin mampu mengendalikan diri terhadap yang terjadi di sekeliling kita, utamanya menghargai pendapat orang lain, yang boleh jadi tak sesuai dengan sikap kita.

Sikap toleran dapat kita maknai taat terhadap norma sosial, norma keberagaman.

Selain sikap toleran, di tengah tantangan yang semakin berat seperti saat ini, di tengah beragamnya problema akibat dampak pandemi Covid -19, dituntut pula adanya kesabaran. Sabar di sini berarti taat diri. Lapang dada. Taat dan setia mengontrol diri sendiri untuk tidak cepat menyerah, tidak mudah berkeluh kesah, dan tidak putus asa.

Pitutur luhur mengajarkan kesabaran bukan berarti diam tak bergerak di saat tertimpa musibah. Bersabar adalah aktif  bergerak mencari kebaikan saat musibah datang.

Dalam tata kehidupan sosial, sabar hendaknya kita maknai juga jika disakiti orang lebih memilih diam, ketimbang melawan. Lebih baik mencari kebaikan, ketimbang membuta mata membalas dendam, meski kesempatan untuk itu telah datang. (*).

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->