Download E-Paper

Siapa Bilang? Justru Klepon Jajanan Pasar Sangat Islami

Rabu, 29 Juli 2020 - 06:47

MASALAH klepon yang tidak Islami beberapa hari lalu ramai di media online, sampai MUI pun menanggapi. Jika merujuk ke ilmu “othak-athik mathuk” (dipas-pasin), justru jajanan klepon itu sangat Islami. Bukankah warna hijau identik dengan Islam?

Sebetulnya yang memposting kali pertama si klepon itu orang iseng yang kurang kerjaan belaka. Celakanya yang kali partama iseng juga menanggapi. Akhirnya persoalan iseng itu menjadi serius, apa lagi MUI ikut juga menanggapi. Kata KH Asrorun Niam Sholeh dari komisi fatwa MUI, ini guyonan (joke) yang berbahaya.

Dia beralasan, soalnya jika “si klepon” ditanggapi secara serius, salah-salah bisa memecah umat. Karenanya polisi diminta segera bertindak, agar menjadi pembelajaran bahwa jangan seenaknya posting sesuatu di medsos. Jika dibiarkan bisa melebar jadi bahan saling ledek di tengah masyarakat.

Sebetulnya, jika yang kali pertama membaca postingan itu sengaja diam tak bereaksi, pastilah yang mau iseng gagal total. Tapi karena ditanggapi, akhirnya jadi ke mana-mana. Soalnya, pengunggah pertama akan merasa puas dan bangga.

Sebaliknya jika didiamkan, dia akan capek sendiri dan berhenti. Dalam postingan “si klepon” itu ditambahi kata-kata provokatif: dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami. – Abu Ikhwan Azis.

Padahal ketika dicari ke mana-mana sosok Abu Ikhwan dan tokonya tak pernah ketemu. Apakah postingan itu sekedar perang dagang antara penjual klepon dengan penjual kurma di suatu tempat?

Dalam postingan itu juga tak dijelaskan, apa alasannya “si klepon” tidak Islami.  Padahal jika mau menggunakan ilmu “othak athik mathuk”, jawabannya adalah: justru “si klepon” sangat Islami. Bukankah warna hijau dalam makanan itu sangat identik dengan Islam?

Taplak meja meja Pengadilan Agama berwarna hijau, plangplang papan nama sekolah Islam kebanyakan berwarna hijau. Bahkan kain penutup keranda juga hijau.

Demikian juga parutan kelapa yang bertaburan di situ, itu kan mirip rambut ubanan. Padahal uban adalah pertanda tua. Itu bisa diibaratkan, ormas-ormas Islam sebagaimana Muhammadiyah (1912) dan NU (1926) adalah ormas tua yang selalu eksis di negeri ini, menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Jika mau mengikuti alur pikiran si pengunggah postingan “si klepon”, kalau begitu burung yang Islami adalah Emprit Kaji karena kepalanya putih. Sedangkan burung gereja menjadi Nasrani karena pakai nama tempat ibadah umat Nasrani.

Padahal di belahan bumi manapun tak ada burung beragama. Makanya burung gereja tak pernah kebaktian, dan emprit haji juga tak pernah Jumatan.– gunarso ts

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->