Download E-Paper

Wamenag Buka Rakornas Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam MUI

Sabtu, 11 Juli 2020 - 14:45
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, membuka Rakornas Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KPSBI) MUI yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu 11 Juli 2020. (ist)

JAKARTA – Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, membuka Rakornas Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KPSBI) MUI yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu, (11/7/2020).

Rakornas ini mengusung tema “Penguatan Strategi Seni Budaya Islam untuk Indonesia Berkeadaban”,  dengan menghadirkan nara sumber Ketua MUI Bidang PSBI Sodikun,  Sastrawan Habiburrahman El Shirazy yang sekaligus Ketua KPSBI MUI, dan Produser film "The Battle of Surabaya" Prof. Suyanto.

Kegiatan diikuti oleh seniman budayawan Islam seperti Erick Yusuf, serta alim ulama dari seluruh Indonesia yang peduli seni budaya Islam Indonesia.

Dalam sambutannya, Zainut yang juga menjabat wakil menteri agama ini mengapresiasi rakornas sebagai ikhtiar KPSBI MUI dalam mengambil peran himayatul ummah, yaitu melindungi umat dari seni dan budaya yang tidak disesuai dengan karakter Islam wasathiyah Islam rahmatan lil alamin. 

Zainut Tauhid menyampaikan bahwa secara historis Indonesia sejak dulu telah meresepsi dan mengharmonisasi berbagai budaya yang berasal dari bangsa China, India, Arab, dan Eropa, sehingga terjadi akulturasi dan berkontribusi pada terbentuknya peradaban nusantara kini. 

Ia menambahkan jejak akulturasi dapat ditelusuri dari karya seni budaya Indonesia yang terpengaruh budaya bangsa asalnya tadi. Seperti karya seni arsitektur dan kaligrafi yang terpengaruh budaya timur tengah, seni musik dangdut atau orkes melayu yang terpengaruh tradisi musik India dan timur tengah,  musik modern Indonesia yang terpengaruh Eropa. Juga pengaruh budaya lain pada seni tari, sinematografi, hingga seni kuliner. 

Zainut Tauhid memandang bahwa seni berperan sebagai soft diplomacy atau diplomasi budaya untuk mengenalkan budaya asalnya, yang kemudian menjadi pintu masuk pada misi selanjutnya, yang terkait dengan urusan ekonomi dan perdagangan. 

"Praktik diplomasi budaya yang dilakukan Amerika melalui film hollywood, musik pop, bahkan olahraga bola basket, dikemas menjadi tontonan menarik dan berhasil mengenalkan produk-produk Amerika dan gaya hidup barat pada bangsa lain," kata dia. 
Ia menambahkan begitu pula diplomasi budaya serupa yang dilakukan oleh Jepang dengan komik dan kartun, Korea dengan K-Pop, dan sebagainya yang masuk ke Indonesia serta mempengaruhi kehidupan bangsa kita. 

Menurutnya, pengaruh budaya asing ada yang positif namun ada juga yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Terlebih di era kini saat internet mudah diakses oleh setiap orang, bahkan oleh yang usia dini. Akibat potensi pengaruhnya, maka umat Islam perlu menyadari bahwa salah satu tujuan agama Islam adalah menjaga keturunan (hifdzun nasl).

Seni budaya Islam, lanjutnya, mesti disajikan sebagai alternatif dari arus budaya yang negatif. Peran ulama secara historis terbukti berhasil turut membangun Indonesia yang berkeadaban melalui seni sebagai media dakwah.  

Karena itu, lanjutnya, dalam kompetisi terbuka berhadapan dengan budaya asing di era revolusi industri kini, peran ulama akan lebih efektif berdakwah melalui seni budaya Islam jika dapat berkolaborasi dengan pelaku industri dan instansi/lembaga terkait.

Ia berharap sajian seni budaya Islami harus dikemas secara menarik dan profesional, namun tetap terkendali agar tidak malah menodai Islam itu sendiri. (johara/tri)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->