Download E-Paper

Setelah Bini “Diperah” Pebinor, Ganti Pebinor Diperas Duitnya

Jumat, 26 Juni 2020 - 07:30

INI kisah “perah” lawan “peres”. Namanya WIL, tentu saja Ny. Fahira (30) sering “diperah” oleh Vasco Saidi (33), selaku pebinor (perebut bini orang). Tentu saja Yusfian (35) tidak terima istrinya diobok-obok orang. Gantian Vasco Saidi disekap, keluarganya diperas untuk bayar Rp30 juta. Jika tidak, Vasco Saidi akan tinggal nama, meski dia bukan korban Covid-19.

Pebisnis itu jika sukses bisa kaya raya. Sebaliknya pebinor, bila sukses bini orang pun bisa dikangkangi. Tapi seperti pebisnis, pebinor juga bisa bangkrut ketika diperes oleh suami perempuan yang dikencani. Padahal perilaku orang meres orang, biasanya sekali dilayani, akan ketagihan, diperes terus sampai tinggal celana kolor doang.

Vasco Saidi warga Banjarmasin Selatan (Kalsel), hampir saja seperti itu. Potensi untuk tinggal pakai celana kolor sangat kuat, gara-gara dia buka celana kolor pula, bersama istri orang, Akhirnya polisi yang ikut sibuk, padahal saat enaknya Vasco Saidi nggak pernah ngajak dan nawari.

Rupanya Vasco Saidi ini memang termasuk lelaki doyan, tak puas hanya jatah rutin dari rumah. Mau ke kompleks Begauk (daerah hitam di Banjarmasin) takut mrotholi, dia berpetualang jadi pebinor, dengan alasan lebih hygenis dan bebas Covid-19. Dia berani begitu memang punya modal, wajah tampan dan penampilan juga meyakinkan.

Yang jadi sasaran ternyata Ny. Fahira tanpa Jihan, warga Banjarmasin Utara. Bila Korea Utara – Korea Selatan kadang panas kadang dingin, hubungan Banjarmasin Utara dam Banjarmasin Selatan jusrtu hot terus. Asal situasi mantap terkendali pastilah Vasco Saidi meluncur ke rumah Fahira, untuk melepaskan rindu. Di sinilah Vasco Saidi jadi “tukang perah” meski tak pernah kerja di perusahaan susu sapi Boyolali.

Kenapa Fahira mau saja jadi wanita “perahan” Vasco Saidi? Di samping cowoknya ganteng, dia sendiri sedang kesepian. Soalnya sudah dua bulan ini dia pisah ranjang dengan suami. Walaupun satu rumah tapi terjadi gencatan senjata tanpa ada perintah dari PBB di New York sana.

Lama-lama aksi Vasco jadi pebinor tercium oleh Yusfian suaminya. Kurang ajar ini orang, musim Covid-19 begini kok enak saja main cemplak bini orang. Walaupun sudah 2 bulan tak pernah satu ranjang, tapi kan masih hak mutlak suami. Karenanya Yusfian mau kasih pelajaran pada pebinor dari Banjarmasin Selatan ini.

Bersama dua orang anggota keluarganya, dia menyekap Vasco Saidi di suatu rumah. Tak hanya dipukuli, tapi diminta juga memberikan nomer keluarganya. Begitu diberi langsung Yusfian ngomong bla bla bla….bahwa intinya, Vasco disandera karena telah mengencani bini orang. Opsinya ada 3, dilaporkan ke polisi, dibunuh atau kasih uang ganti rugi Rp30 juta tunai.

Keluarga  Vasco tahu kebiasaan pemeras, jika diladeni jadi tuman. Maka dia pilih lapor polisi diam-diam, meski kepada penyekap beralasan baru kumpulkan uangnya. Meski hanya Rp 30 juta, karena sudah berbulan-bulan di rumah saja sesuai anjuran BNPB, kan susah cari uang.

Pura-pura sudah siap uangnya, pertemuan dan penyerahan diatur. Padahal begitu Yusfian muncul sambil bawa kantong ramah lingkungan, langsung dibekuk polisi. Dalam pemeriksaan Yusfian membantah menculik, tapi hanya dialog untuk kebaikan bersama. Tapi polisi tak peduli, tetap saja dia dijebloskan ke sel Polres Banjarmasin.

Jadi tahanan gara-gara bini mana tahan….. (lfe/gunarso ts)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->