Download E-Paper

Di Bulog, Jenderal Polisi Pun Tak Ditakuti Para Mafia Beras

Jumat, 26 Juni 2020 - 06:30

BERAS Bulog berkutu, itu cerita lama sejak era Orde Baru. Era reformasi, kutu beras itu malah pakai dasi. Maka Presiden Jokowi menaruh mantan jenderal polisi di situ. Tapi ternyata para mafia beras tidak takut, dan kini Kabulog Buwas mulai unjuk gigi.

Dalam sebuah penataran P-4, seorang pembicara yang pejabat Bulog bilang, dari gudang Bulog, beras dijamin masih bagus. Tapi setelah masuk truck-truck PKPN (Pusat Koperasi Pegawai Negeri), Bulog tidak tanggungjawab. Usut-punya usut, beras itu ternyata kemudian ditukar di Pasar Induk. Itu cerita lama tahun 1980-an.

Di era Orde Baru, PNS dan pelajar Ikatan Dinas dapat jatah beras setiap bulan. Beras Amerika pernah, bulgur juga pernah. Tapi beras PNS itu berkutu, sehingga dibasmi pakai kapur, maka beras pembagian itu dinamakan “beras kapuran”. Bila merujuk ucapan pejabat Bulog di atas, rupanya beras-beras itu sudah “made in” Pasar Induk.

Di era reformasi, PNS tak lagi terima beras. Ternyata kutu beras Bulog tak juga hilang, justru bereinkarnasi pakai dasi. Gonta-ganti Kepala tikus-tikus Bulog tak juga hilang, bahkan pernah Kepala-nya keslentak (ketendang) sapi impor (2007). Maklum,. Bulog tak hanya mengurusi beras melulu.

Tikus-tikus Bulog itu bekerjasama dengan mafia. Di era Jokowi kemudian ditaruhlah seorang mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Budi Waseso (Buwas). Sebagai reserse kelotokan yang ahlinya ahli, tentu dengan mudah memetakan maling-maling di lingkungan Bulog.

Ternyata benar, dua tahun mengendalikan Bulog dia jadi tahu siapa saja yang jadi mafia. Ternyata bukan orang luar saja, bahkan orang dalam pun ikut bermain, jumlahnya sekitar 100. Ini sungguh membebani Bulog, karena mafia ini terus menjegal dan menjagal program Bulog. Lewat medsos mereka bikin postingan hoax bahwa beras Bulog jelek, sehingga rakyat banyak yang tak menyukai beras Bulog. Sebagai BUMN, Bulog lama-lama bisa logrek (rusak) citranya.

Sayangnya, karena bukan lagi polisi, Buwas tak bisa tangkap lagi sendiri para mafia itu. Tapi data-datanya sudah diserahkan ke Polri. Jika tak mau menghentikan aksi jahatnya, 100 tikus dan kutu negara itu akan disikat. Tunggu saja tanggal mainnya. – gunarso ts

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->