Download E-Paper

Jadi Negarawan Itu Lebih Susah daripada Menjadi Kepala Negara

Sabtu, 20 Juni 2020 - 06:25

SAAT Gerindra hendak mengusung Prabowo lagi di Pilpres 2024, PA-212 lalu menyarankan, sebaiknya Gerindra cari tokoh lain. Biarkan Prabowo jadi negarawan. Memangnya jadi negarawan itu gampang? Itu lebih susah ketimbang jadi Kepala Negara.

Sejak Indonesia merdeka hingga pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin hari ini, Indonesia baru memiliki 7 Kepala Negara. Taruhlah Bung Karno dan Pak Harto masing-masing menjabat dua periode, jumlahnya sejak RI berdiri hingga kini paling-paling baru 16 orang. Dari jumlah itu, mantan Kepala Negara yang masih hidup tinggal Megawati dan SBY.

Lalu berapa negarawan Indonesia yang pernah mengukir prestasi buat republik ini? Tak ada datanya secara resmi. Sebab mereka tak pegang kekuasaan, tapi bisa dirasakan. Sebalikya Kepala Negara, dia punya kekuasaan meskipun banyak pula yang korban perasaan.

Sekadar contoh, korban perasaan itu misalnya, pengin sekali jadi kepala nagara, tapi tak pernah kesampaian. Ada yang sampai jadi Capres, ada pula yang baru sampai tahap dielus-elus dan didorong-dorong. Ada pula tak ada yang mendorong tak ada pula yang mengelus-elus, tapi dengan pedenya memproklamirkan diri mau nyapres.

Tapi ketika punya elektabilitas, punya uang kertas, dan dapat dukungan parpol koalisi, menjadi Kepala Negara menjadi gampang. Bagaimana untuk menjadi Wakil Kepala Negara (Wapres)? Dia mah hanya pelengkap penderita. Maka syaratnya cuma dua, yakni punya elektabilitas dan 5 tahun berikutnya tak ambisi mau Nyapres. Itu saja.

Mudah sekali bukan? Beda sekali dengan negarawan. Dia tak perlu kursi kekuasaan, tapi sepak terjangnya menginspirasi dan jauh dari korupsi. Dia menomersatukan kepentingan bangsanya, ketimbang pribadi dan golongannya.

Sekadar contoh, Bung Hatta tahun-tahun awal kemerdekaan, kepengin sekali punya sepatu merk Bally. Beli juga mampu, tapi karena rakyat Indonesia masih miskin, tak tega membelinya. Lalu ada lagi PM Muhammad Natsir, di tahun 1950-an pernah dikirimi mobil Impala oleh pengusaha, tapi ditolaknya. Ketika anak istrinya kecewa akan sikap suami, M. Natsir bilang, “Itu bukan hak kita, kita cukup dengan mobil yang ada.”

Kapolri Hugeng Iman Santosa (1968-1971) idem ditto. Begitu jadi Kapolri banyak cukong kirim meubeler ke rumah, tapi langsung dibuang ke luar rumah. Bahkan istrinya pun, Merry, tidak boleh lagi buka toko bunga, karena khawatir jadi ajang menyuap lewat keluarga. Maka Gus Dur pernah bilang, polisi jujur di Indonesia hanya dua, yakni Hugeng dan polisi tidur. (gunarso ts)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->