Download E-Paper

Cari Janda Tengah Malam Si Duda Ditangkap Warga

Senin, 18 Mei 2020 - 07:20

BERANI betul Safrizal (30), dari Padang (Sumbar) ini. Tengah malam di bulan Ramadan blusukan mencari janda. Begitu ketemu terus ndekem nggak keluar-keluar. Warga yang sudah lama mencurigai, langsung menggrebek rumah janda Halida (28). Kedua pelaku mesum itu dibawa ke Polsek Koto Tengah.

Sebagaimana Aceh, Sumbar juga kota agamis, cuma tak sampai bikin aturan/ hukum sendiri. Tapi orang jalan berdua sedangkan mereka bukan muhrimnya, pasti kena sanksi sesuai perda setempat. Tapi mereka tak perlu sampai dihukum cambuk sebagaimana Aceh. Artinya, makhluk berlainan jenis harus pandai-pandai menjaga diri,
jangan sampai kemudian terjebak perzinaan.

Adalah Safrizal warga Kuranji di kota yang sama. Dia lahir dan besar di daerah itu, sehingga sudah barang tentu sudah tahu persis hukum agama dan adat yang berlaku di sana. Tapi ketika dia berkenalan dengan janda Halida, pemahaman tentang itu mendadak buyar. Justru dia membuat pembenaran sendiri, “Sepanjang si jando mengimbangi, kenapa tidak?”

Maka di malam bulan Ramadan, ketika orang salat tarawih di rumah sendiri, dia malah kelayapan ke rumah janda Halida. Aturan jaga jarak dari BNPB juga berlaku untuk Sumbar, tapi Safrizal tak menggubris. Ketika ketemu Halida justru maunya tanpa jarak, meski 1 Cm pun. Urusan virus Covid-19 menyebar lewat bibir atau hidung, sebodo amat. Yang penting hepy, nafsu tersalurkan.

Namanya janda dan duda, di bulan puasa yang lapar dan haus bukan hanya tenggorokan dan perut belaka. Yang di bawah perut justru lebih dari itu. Ternyata setan membenarkan dan terkesan merestui. Lho, di bulan Ramadan kan setan dibelenggu, tak bisa menggoda manusia. “Ssst…., aku punya kunci duplikatnya kok.” Kata setan
berbisik-bisik.

Karena diendors dan dibeking setan, makin pede saja Safrizal mengunjungi rumah si jando Halida. Waktunya dipilih sengaja pukul 22.00 ke atas, ketika para tetangga sudah berangkat ke peraduan. Jarak Kuranji ke Koto Tengah tempat tinggal Halida lumayan jauh, tapi demi cinta semuanya menjadi dekat. Ini mengingatkan lagunya Lilis Suryani
tahun 1960-an, yang sepenggal liriknya berbunyi, “Tiga malam kumencarimu, tiga malam hatiku sunyi, di manakah engkau sayang……”

Ketika lagu itu dilansir, jelas Safrizal maupun Halida belum diprogram, masih di pucuk pring kata orang Jawa di Sitiung daerah transmigran. Tapi rasa dan selera manusia dimabok asmara, tetap sama. Jika jauh pengin ketemu, jika ketemu. Maka ketika orang pada berangkat ke peraduan, Syafrizal dan Halida juga ingin mengadu sesuatu.
Apakah pasangan Halida-Safrizal ini sampai berbuat sejauh itu, tak diketahui pasti. Yang jelas warga Koto Tengah, khususnya desa tempat tinggal Halida, sudah mendesak Halida untuk tidak menerima tamu malam hari. Apa lagi tamunya berganti- ganti, dan semua anak muda lelaki. Kan bahaya…….

Tapi rupanya teguran warga itu tak digubris, Halida tetap menerima Safrizal di malam hari. Maka habis sudah kesabaran warga, beberapa hari lalu warga menggerebek rumah Halida. Keduanya memang tidak berada dalam satu kamar, apa lagi satu ranjang berdua-dua. Halida di kamar, tapi Safrizalnya ngumpet di plafon.

Justru ini yang membuat warga semakin curiga. Maka kaki Safrizal yang nampak terjuntai ditarik, dipaksa keluar bersama badan dan kepalanya sekalian. Keduanya lalu disidang di rumah Pak RT Sutan Marajo. Mereka ditanya tentang hubungannya selama ini, sampai sejauh mana pula mereka berbuat. Tapi karena tak ada pengakuan spektakuler, akhirnya Halida dan Safrisal diserahkan ke Polsek Koto Tengah.

Paling yang diurus juga soal yang di tengah-tengah. (sc/gunarso ts)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

Rekomendasi



-->