Download E-Paper

Katanya Hanya Bawahan Tapi Kok “Dibawahi” Juga?

Sabtu, 24 Oktober 2020 - 07:30

AWALNYA Jumali (45), mengaku bahwa Firda (30), itu hanya bawahannya di kantor. Tapi tahu-tahu ke rumah dalam kondisi hamil. Jumali mencoba ingkar. Begitu ditest DNA, bayi itu memang hasil “setroman” Jumali. Bawahan yang “dibawahi” itu akhirnya dikawin siri, tapi justru merongrong istrinya karena mau menguasai harta Jumali.

            Lelaki itu jika bakatnya tukang kawin, banyak cara untuk mengelabui istrinya. Istri satu tak pernah cukup, pengin istri kedua, ketiga dan seterusnya. Karena umumnya lelaki malu poligami, maka caranya istri pertama dicerai ambil istri kedua. Istri kedua dicerai, ambil bini ketiga. Begitu seterusnya. Baru nyaho ketika ketemu cewek yang lihai, siap dikawin siri tapi justru merongrong istri sahnya.

            Jumali warga Surabaya termasuk yang malu-malu kucing soal poligami, padahal sebagai pejuang selangkangan dia militan habis. Ndilalahnya dia pengusaha sukses, sehingga hasratnya selalu termanjakan. Lebih-lebih di jaman cewek mengacu prinsip witing tresna merga atusan lima, sekali dilirik Jumali sicewek langsung bertekuk lutut dan berbuka paha.

            Atikah (38), istrinya yang sekarang, sebetulnya istri yang kedua. Istri yang pertama langsung diceraikan begitu sudah punya cem-ceman wanita lain yang tak lain si Atikah tersebut. Tapi karena Jumali memang pejuang selangkangan yang militant, meski sudah punya istri pengganti masih ngincen cewek lain lagi. Bagi Jumali istri tak ubahnya mobil, asal bosan dijual ganti yang baru lagi yang suspense-nya lebih empuk.

            Di kantornya dia punya staf namanya Firda. Cantik memang, sehingga Jumali suka sedut senut setiap menatap wajah anak buahnya tersebut. Dan Firda tahu aspirasi bossnya itu, sehingga dia selalu memancing-mancing masalah. “Kalau aku jadi bini Pak Jumali, pastilah hidupku tinggal mamah karo mlumah,” begitu prinsip Firda.

            Maka sama-sama karyawan, Firda tampak lebih dekat dengan juragannya. Semua karyawan tahu itu, dan sangat memaklumi. Yang tak maklum tentu saja Atikah. Dia pernah ke kantor dan melihat gaya Firda di depan Jumali, Atikah pun cemburu. “Siapa itu Mas, kok centil banget sih kelihatannya,” kata Atikah penuh rasa curiga.

            Jumali pun menjawab, dia hanya bawahan biasa, tapi dia serba bisa maka Jumali memberi kekuasaan lebih. Sang istri hanya manggut-manggut kaya Pak Harto padahal batinnya tak bisa melepas rasa curiga. Sebab dia tahu persis karakter Jumali, pejuang selangkangan yang militan. Di hati kecilnya dia memang khawatir, suatu saat akan terdepak juga sebagaimana istri pertama Jumali.

            Beberapa bulan kemudian tiba-tiba Firda ke rumah, nangis-nangis mengaku hamil dan minta tanggungjawab Jumali. Langsung saja Atikah membombardir suaminya. Katanya bawahan, tapi kok ternyata “dibawahi” juga. Tapi Jumali sumpah-sumpah tak pernah berbuat sejauh itu. “Ini kan masa pandemi ma, saya kan selalu jaga jarak pada semua pegawaiku.” Kata Jumali mengkambinghitamkan Covid-19.

            Ah itu kan di depan umum, di tempat khusus siapa tahu. Maka Atikah menantang suami untuk test DNA atas janin yang dikandung Firda. Siap, kata Jumali seperti tentara saja. Dan dua minggu hasilnya membuktikan, Jumali memang lelaki celamitan.Janin yang dikandung Firda memang asli hasil “setruman”-nya juga. Nah, sekarang Atikah pun memaksa Jumali untuk menikahi Firda, meski hati Atikah semakin luka di atas luka.

            Tapi karena Jumali pantang poligami, jalan tengahnya Firda hanya dikawin siri. Tapi meski hanya dikawin siri, kuku-kuku keserakahannya semakin mencengkeram Jumali. Firda bisa menciptakan berita-berita hoaks yang isinya semakin memojokkan Atikah dan suamipun semakin marah. Hampir setiap hari diteror Firda yang tak tahu diuntung tersebut, Atikah pasrah dan mengalah minta cerai saja.

            Apa yang dikhawatirkan Atikah akhirnya menjadi kenyataan juga, gara-gara Firda yang tak tahu membalas budi. Coba jika waktu itu Atikah bersikeras tak mau dimadu, niscaya Firda akan menjadi perempuan tenggur alias meteng nganggur. Tapi nasi sudah menjadi bubur,  Atikah harus pergi, meski dapat “pesangon” berupa rumah dan kendaraan dari Jumali.

            Gara-gara “burung” Jumali banyak punya rumah di mana-mana. (JPNN/Gunarso TS)

           

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->