Download E-Paper

Lonjakan Covid-19 Usai Libur Panjang

Kamis, 22 Oktober 2020 - 06:00
Tol Cipali macet saat liburan. Ilustrasi.

LIBUR panjang pekan depan mulai 28 Oktober hingga 1 November 2020, banyak warga yang telah menyusun rencana mengisi long week end. Sebagian memilih 'di rumah saja' karena situasi pandemi Covid-19 masih belum aman. Tetapi banyak juga yang tetap berencana liburan ke luar kota. Diprediksi, libur panjang tersebut banyak warga ‘eksodus’ berlibur ke luar kota. 

Berlibur ke luar kota di tengah pandemi, boleh-boleh saja. Tetapi sangat berisiko. Saat ini semua daerah di Indonesia belum aman dari ancaman penularan virus corona  meski berstatus zona hijau. Kalangan epidemologi menilai, liburan ke luar kota di saat pandemi sangat berisiko. Meski patuh pada protol kesehatan 3M, belum menjamin bebas dari penularan. 

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap enteng masalah ini.  Satgas Covid mencatat, 17 persen penduduk Indonesia atau sekitar 45 juta jiwa sangat yakin tidak akan terpapar Covid. Survei 'Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 17-30 tahun paling banyak yang merasa 'kebal'. 

Persepsi ini tentu tidak sejalan dengan visi dan misi pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus corona.  Satgas Penanganan Covid-19 berkali-kali mengingatkan penyakit tersebut tidak memandang usia, jenis kelamin, atau status sosial seseorang sebab semua kelompok memiliki risiko terinfeksi. Terlebih bagi komorbit, atau pengidap penyakit bawaan. 

Potensi klaster baru wabah virus corona bisa muncul dari mana saja, selama ada interaksi antar warga. Munculnya klaster-klaster baru dipicu rendahnya disiplin masyarakat menerapkan protokol kesehatan (prokes), serta rendahnya pemahaman dan kesadaran akan bahaya virus corona. Salah satunya bepergian ke luar rumah termasuk berwisata, tetap berkerumun tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Padahal pergi berwisata keluar kota berpotensi terpapar Covid-19.

Publik harus berkaca pada kasus Covid-19 Agustus lalu yang melonjak tajam. Pasca libur Agustusan, angka positif corona di DKI melonjak setelah warga yang berlibur keluar kota kembali ke Jakarta. Klaster-klaster baru bermunculan, dan penularan terjadi secara masif. Pemicunya, karena kerumunan di berbagai lokasi yang dikunjungi selama liburan, serta tidak patuh terhadap protokol kesehatan.

Trend lonjakan kasus pasca libur panjang, harus jadi pelajaran berharga. Saat libur HUT RI Agustus lalu, kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan naik 58 - 118% pada pekan ketiga Agustus dengan rentang waktu 10-14 hari. Libur panjang pekan depan, pertimbangkan lagi rencana ke luar kota. Lebih aman, tetap di rumah saja, lakukan hal-hal positif demi kesehatan diri sendiri dan orang lain. **

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->