Download E-Paper

Revolusi Mental Perlu Keteladanan

Sabtu, 17 Oktober 2020 - 06:00

KITA sering mendengar istilah revolusi mental dan pembangunan kebudayaan.
Istilah ini acap didengungkan karena memang telah menjadi program pemerintah.

Revolusi mental juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Tak heran jika semua kementerian, lembaga terkait langsung dengan pelaksanaan revolusi mental, telah melakukan sejumlah perencanaan kerja dan kegiatan dimaksud.

Revolusi mental semakin relevan untuk saat ini, di tengah negeri kita sedang menghadapi sejumlah problema.

Selain, masih terjadinya sikap arogansi dan main hakim sendiri, juga melemahnya perekonomian nasional akibat dampak pandemi.

Tak kalah penting yang perlu diwaspadai adalah tersebarnya hoax secara liar di media social yang bisa melahirkan ujaran kebencian (hate speech) terhadap tokoh atau kelompok masyarakat tertentu.

Ini mudah terpicu  karena tradisi klarifikasi, verifikasi, chek and recheck, mulai diabaikan.
Di era pandemi saat ini,  gerakan revolusi mental kian dibutuhkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktik revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Ada rasa optimisme, bukan pesimisme dalam menghadapi masalah.

Gotong royong menjadi satu kunci menangani pandemi. Mengatasi Covid-19 tidak bisa jalan sendiri - sendiri. Semua pihak harus bahu membahu, saling membantu, saling peduli mencegah penyebaran virus Corona. Itulah sikap gotong royong yang diharapkan menjelma dalam kehidupan sehari - hari.

Gerakan revolusi mental akan mencapai sasaran, jika ada keteladanan.

Di sinilah peran para pemimpin dan aparat negara menjadi pelopor untuk menggerakkan revolusi mental.  Dimulai dari masing-masing Kementerian/Lembaga untuk saling bersinergi membangun kebersamaan dan optimisme. (*).

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->