JAKARTA - Pandemi Covid-19 berdampak pada naiknya jumlah orang miskin. Warga harus putar otak demi memeroleh uang, termasuk menggadaikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) milik anak. Kondisi ini menimbulkan ancaman anak putus sekolah.
Banyaknya pekerja yang di PHK, membuat angka pengangguran bertambah. Akibatnya jumlah orang miskin baik di Indonesia maupun di Ibukota meningkat. Guna memenuhi kebutuhan hidup, mereka melakukan apa saja.
Seperti yang dilakukan oleh ratusan warga di Jakarta Barat. Mereka terpaksa menggadaikan KJP karena terdesak kebutuhan ekonomi. Di Jakarta Barat, tercatat ada 219 KJP digadaikan oleh orang tua murid. Data ini bisa jadi jauh lebih banyak bila ditambah dengan kasus serupa di wilayah lain.
Salah satu keluarga yang menggadaikan KJP anak, adalah pasangan suami istri Sutrisna dan Enur, warga Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Enur mengaku terpaksa menjaminkan KJP anaknya karena terdesak kebutuhan ekonomi.
KJP itu dijaminkan ke toko perlengkapan sekolah di kawasan Kalideres, agar dapat meminjam uang Rp500 ribu guna menyambung hidup.
SUAMI KENA PHK
Menurut dia, pencairan KJP anaknya memang tidak telat. Tetapi semenjak suaminya yang bekerja sebagai petugas keamanan di-PHK, mereka tidak lagi memiliki uang. “Kondisi kemarin memang susah. Suami enggak kerja. Kami ditagih bayar kontrakan, dan keluarga kami juga kekurangan,” jelas Enur, Kamis (16/7/2020).
Adanya KJP, sambung Enur, sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sekolah kedua anaknya. Oleh karena itu, diharapkan Dinas Pendidikan tak mencabut KJP.
Baca juga: Layani KJP, Pemilik Toko Ini Diperas, Lalu Dituduh Rentenir
Sutrisna, suami Enur menambahkan terpaksa menjaminkan KJP milik anaknya karena dia dipecat dari pekerjaannya sejak tiga bulan lalu. Sebelumnya ia bekerja sebagai pegawai tidak tetap bagian keamanan di sebuah pabrik di Kalideres. Namun pada April 2020 lalu kena PHK akibat pandemi Covid-19.
Sebulan lebih menganggur, uang tabungannya habis. Semula, Sutrisna mau menjaminkan STNK motornya ke toko perlengkapan sekolah di kawasan Kalideres. Namun pemilik toko menolak begitu mengetahui bahwa motor itu satu-satunya harta milik Sutrisna.