“Serangan Fajar” Pakai NPWP Penyakit Rakyat Berdemokrasi

Senin 15 Apr 2019, 07:20 WIB

HARI Tenang panen uang, adalah semboyan pelaku “serangan fajar” setiap Pemilu. Dengan menggunakan NPWP alias Nomer Pira Wani Pira, uang didapat dari para Caleg. Bawaslu pun mensinyalir, daerah Jabar berpotensi terjadinya money politik itu. Dan ternyata penyakit rakyat berdemokrasi itu bukan cuma Jabar, tapi juga di Jatim. Hanya ayam yang tidak doyan duit! Dan menjelang Pemilu ini banyak orang menawarkan uang meski hanya sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- Siapa para “dermawan” itu? Tak lain tak bukan adalah para Caleg, baik itu untuk tingkat DPR pusat maupun DPRD. Dalam bahasa Pemilu, ini dinamakan money politic, disebut juga “serangan fajar”, karena biasanya dilakukan pagi subuh menjelang pencoblosan. Rakyat banyak juga yang menyambut gegap gempita cara ini, dengan menggunakan “filosofi” Nomer Pira Wani Pira, maksudnya:  nomer berapa parpol Anda, dan berani bayar berapa?” Bawaslu kemarin mensyinyalir, di Pulau Jawa wilayah Jabar paling berpotensi terjadinya “serangan fajar” itu. Dengan istilah IKP (Indeks Kerawanan Pemilu), Provinsi Papua merupakan wilayah paling rawan dengan skor IKP paling tinggi (55,08), kemudian Yogyakarta (52,67), dan Jawa Barat (52,11) di posisi ketiga. Dengan pemetaan seperti itu bukan berarti selain tiga daerah itu bebas “serangan fajar”. Baru saja diberitakan, di Dukuh Gandong, Desa/Kecamatan Jenangan, Ponorogo (Jatim) Bawaslu Ponorogo mengamankan satu orang penyebar uang amplop. Dari tangan A diamankan uang senilai Rp 1,3 juta berupa pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu. Dibandingkan dengan kasus Bowo Sidik Pangarso Caleg Golkar yang mau sebar 400.000 amplop, ulah Caleg DPRD Ponorogo itu masih kelas gurem. Namun demikian “serangan fajar” berbasis NPWP tersebut adalah penyakit rakyat berdemokrasi sejak era reformasi. Setiap menjelang Pemilu, selalu saja masih terjadi. Kenapa hal itu sampai terjadi? Karena rakyat semakin pintar. Dulu mereka mencoblos Caleg dengan tulus. Tapi setelah duduk di DPR-DPRD mantan Caleg jadi lupa sama konstituennya. Mereka sejahtera, tapi rakyat yang memilihnya tetap sengsara. Maka sekarang rakyat “balas dendam”. Mereka baru mau mencoblos ketika para Caleg mau bagi-bagi rejeki meski sekedar Rp 20.000,- hingga Rp 50.000,- Nah, gara-gara tolak “serangan fajar” Caleg Ahmad Yani (PPP) dan Eva Kusuma Sundari (PDIP) gagal masuk Senayan. Eva baru masuk ke DPR setelah terjadi PAW di partainya. – (gunarso ts)


Berita Terkait


undefined
Opini

Waspada Serangan Fajar

Selasa 13 Feb 2024, 05:00 WIB

News Update