Imlek dan Cina Benteng Tangerang

Jumat, 16 Februari 2018 16:47 WIB

Share
TANGERANG - Beragam cara dan perasaan warga Benteng, Tangerang, saat menyambut Imlek di tahun Anjing Tanah 2018, Jumat (16/2)."Di sini panas dari pagi, kita maunya sih hujan gede, supaya banyak rejeki," kata Merni (50) di kawasan Karawaci, Kota Tangerang. Sedangkan Weweh (46) di kawasan Gang Areng, Sukajadi mengaku senang tidak ada hujan di hari Imlek ini. "Biar hujannya di hari lainnya aja, itu udah cukup bawa rejeki.Kalau sekarang kan kita bawa keluarga ke sana ke mari, gak enak kalau turun hujan lebat," ungkap bapak beberapa orang anak ini. Kenyataannya, panasnya cuaca di Gang Areng, membuat warga cukup sibuk saling silaturrahim di hari Imlek. Hujan lebat, di malam menjelang hari Imlek kemarin, telah membatalkan rencana warga Gang Areng meramaikannya dengan organ tunggal. "Hujannya gede, nggak berhenti, tadi malam," kata Letty. Alhasil, malam 'takbiran' Imlek kemarin, banyak yang berkumpul dengan keluarga di dalam rumah. Di kawasan Sewan, Neglasari, Kota Tangerang, suasana Imlek terasa senyap."Anak-anak sih pada ke rumah, ngumpul setaon sekali," kata Sin Yang, lelaki pengumpul sampah di Cisadane ini.Dia mengaku tak melakukan persiapan khusus menyambut Imlek. Masyarakat keturunan China di Tangerang memang warga etnis keturunan China yang khas. Mereka umumnya tinggal di sepanjang pinggiran kali Cisadane. Seiring perkembangan Kota Tangerang, banyak dari mereka yang hidup lebih baik, tapi tidak sedikit yang masih tertinggal dalam kemiskinan. Dari sejumlah literasi, etnis Tionghoa di Tangerang ini merupakan keturunan imigran Cina Hokkian. Konon pertama kali datang di kawasan Tangerang pada 1407 sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie VOC. Sebutan Cina Benteng ini merujuk pada nama lama Kota Tangerang yaitu Benteng, yang dibangun VOC di bagian timur Sungai Cisadane. Peleburan budaya Tionghoa pun terjadi sejak dulu antara lain melalui kuliner, bangunan rumah dan juga musik gambang kromong, cokek.Dalam Merayakan Imlek pun telah banyak terjadi akulturasi budaya.Begitu juga dengan bahasa. Tak banyak di antara mereka bisa bahasa Mandarin, kecuali bahasa gaul seperti bo Siau, atau world air ni, sacap, go cap dan lainnya. Di malam Imlek, sembahyang biasanya dilakukan di klenteng, dan dilanjutkan dengan berkumpul dengan keluarga. "Kita bagi atau terima angpau, biasanya dari yang tua ke yang lebih muda," kata Letty. Mereka umumnya bersukacita dengan pakaian baru, dan menikmati beragam kuliner. (Awang/b)
Reporter: Admin Super
Editor: Admin Super
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler