Dari Teknik Sipil jadi Pejuang HAM

Rabu 21 Mar 2018, 01:38 WIB

TIDAK banyak orang yang konsisten sebagai aktivis HAM seperti Hendardi. Jika 1979 lalu, dia tidak menjadi aktivis hukum di kampusnya ITB sebagai Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM) ITB, 1979-1981, dirinya kini tidak akan menjadi pejuang HAM. "Ketika kuliah saya sudah membela senior di ITB. Mereka ditangkap pihak berwajib karena menolak Presiden Soeharto, yakni Rizal Ramli, Hery Ahmadi dan Indro Cahyono," kata Hendardi. Jika saja dirinya tidak membela seniornya saat itu, maka sekarang mungkin tidak akan menjadi pejuang HAM. "Saya waktu itu mahasiswa teknik sipil. Tidak ada kaitannya dengan hukum. Sejak membela senior itulah saya menjadi tertarik dengan dunia hukum," sambungnya. Karena membela senior itulah membuat dirinya bisa bergaul dengan pengacara terkenal, seperti Adnan Buyung Nasution, Haryono Citro Subono, dan Suhardi. Bahkan dirinya semakin lengket dengan dunia hukum tatkala Lembaga Bantuan Hukum (LBH) membuka cabang di Bandung dan dia masuk ke lembaga tersebut. "Dari sinilah saya bergaul dengan bidang hukum dan hak azasi manusia. Dulu kasus yang saya tangani banyak berupa persoalan tanah di Bandung. Saya suka berpergian ke pedesaan membantu petani yang digusur tanahnya,” ujarnya. TIM PEMBELA Tahun 1983, dia ditarik ke Jakara untuk ikut menjadi tim pembela Jenderal Hartono Rekso Dharsono, bekas Pangdam Siliwangi dan Sekjen ASEAN yang dituduh subversif oleh pemerintah. "Pengalaman inilah yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia hukum dan HAM," kata prian kelahiran Jakarta, 13 Oktober 1957 ini. Sejak saat itu berbagai jabatan hukum pun dilakoninya, yakni Yayasan LBH Indonesia (YLBHI), Jakarta, (1986–1996). Jabatan terakhir sebagai Direktur Komunikasi dan Program Khusus merangkap Kepala Hubungan Masyarakat YLBHI, Ketua Badan Pengurus PBHI (1996-2004), Ketua Majelis Anggota Nasional PBHI, 2004 sampai sekarang dan Ketua Badan Pengurus Perkumpulan SETARA Institute for Peace & Democracy, 2006 sampai sekarang. Kini Hendardi lebih banyak berjuang dan bekerja dengan Ketua Badan Pengurus Perkumpulan SETARA Institute for Peace & Democracy. "Organisasi tersebut berjuang untuk mewujudkan perlakuan setara, plural, dan bermartabat atas semua orang dalam tata sosial politik demokratis," tegasnya. (rizal/fs/bi/st)


News Update