Maher Zain Serahkan Bantuan Pangan ke Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Jumat 09 Mar 2018, 08:54 WIB

BANGLADESH –  Musikus asal Swedia yang berdarah Lebanon, Maher Zain, mengunjungi komunitas  Rohingya Myanmar yang mengungsi di Bangladesh. Maher yang juga terkena di Indonesia, berpartisipasi dalam kegiatan bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh Bulan Sabit Merah Turki di wilayah tersebut. Menurut informasi dari Bulan Sabit Merah Turki yang dilansir Anadolu Agency, Maher Zain berkunjung ke Cox's Bazar, Rabu (7/3/2018). Sebagai relawan Bulan Sabit Merah Turki, Maher Zain mengikuti kegiatan distribusi makanan dan peralatan kebersihan kepada orang-orang yang membutuhkan di kamp Balukhali. “Aku sangat senang menjadi perantara untuk menyampaikan kepada masyarakat dunia, mengenai kegiatan bantuan kemanusiaan kepada Rohingya,” kata maher Zain. Sebelumnya, pada bulan Mei 2017, atas undangan Bulan Sabit Merah Turki, Maher Zain juga mendatangi Somalia untuk mendukung upaya bantuan kemanusiaan internasional dan menarik perhatian masyarakat dunia pada bencana kelaparan dan kemiskinan di sana. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pengungsi Rohingya yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017 telah mencapai 688.000 jiwa. Dalam pernyataan tertulis yang dirilis Selasa (6/3), WHO mengatakan kamp-kamp Rohingya—yang disebut sebagai wilayah permukiman terbesar di dunia—berisiko menyebarkan wabah penyakit. Direktur regional WHO untuk kawasan Asia Tenggara, Poonam Khetrapal Singh, mengatakan pemerintah Bangladesh dan badan mitra telah berusaha keras untuk mencegah penyebaran penyakit seperti wabah kolera, campak, dan difteri. "Meskipun begitu, tantangannya semakin besar, banyak, dan terus-menerus. Untuk menanggulangi krisis ini diperlukan upaya dan kontribusi dari semua pihak demi peningkatan layanan kesehatan bagi penduduk," ungkap dia. PBB menyebut Rohinya sebagai kaum paling teraniaya di dunia, yang telah menderita sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012. Menurut Dokter Lintas Batas, selama 25 Agustus - 24 September, setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine. PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar. PBB menyebut pelanggaran tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan.(Tri)

Berita Terkait

News Update