Ray Sahetapy Terobsesi Bikin Film Salam Nusantara

Sabtu 10 Feb 2018, 00:43 WIB

GAYANYA tak berubah, doyan ngomong cepat dengan ekspresif, terkadang bersuara agak tinggi, tapi pribadinya sangat ramah. Itulah Ray Sahetapy yang kini berusia 61 tahun, aktor kawakan yang banyak membintangi film drama Indonesia, sejak 1980an sampai sekarang. Belakangan mantan suami Dewi Yull ini ikut dipercaya main di beberapa film internasional. "Gua lagi nyari produser yang mau mewujudkan mimpi gua bikin film spektakuler tentang makna Salam Nusantara. Ini yang gua dengung-dengungkan," ujar Ray pada Pos Kota. Mimpi itu, menurutnya, sebuah pribadi yang aneh tapi berkarakter kejujuran. "Gua pengen jadi orang waras, tapi semua orang menganggap gua gila, sakit jiwa, pokoknya gila banget deh. Namun di balik gila itu tertanam nilai-nilai kejujuran yang kemudian semua orang bisa tersadar," beber aktor bernama asli Ferene Raymond Sahetapy ini. Dia juga aktif memberikan gagasan tentang kebangsaan melalui diskusi dan seminar kebudayaan. Tapi sayang, dia belum menemukan produser itu. Kenapa ngga bikin sendiri aja? Suami dari Sri Respatini Kusumastuti (Iin) ini sejenak terdiam. "Apa perlu ya? Soalnya kalo gua fokus sebagai pemain, itu lebih tepat. Ngurus produksi film kan nggak mudah. Tapi mungkin saja jika terpaksa ha ha.." jawabnya tertawa. Bagi Ray, apapun yang menjadi kendala dalam merealisasikan keinginan, tidak harus diratapi. "Gua enjoy aja, kalo bisanya hanya masih sebatas gagasan, ya udah ngga apa-apa, bikin seminar. Yang penting ide itu harus mengalir terus," beber aktor lulusan IKJ tahun 1988, yang seangkatan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok ini. FILM PERTAMA Aktor kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 Januari 1957 ini pertama kali bermain dalam film Gadis arahan sutradara Nya' Abbas Akup. Di sinilah dia bertemu Dewi Yull, istri pertamanya. Selepas itu, membintangi film Sejuta Serat Sutra, Kabut Ungu di Bibir Pantai, Dukun Ilmu Hitam (1981), Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982), Darah dan Mahkota Ronggeng, Cinta Semalam, Ponirah Terpidana (1983), dan puluhan film dibintanginya. Saat film nasional sepi, Ray tetap eksis. Ray membangun sanggar teater di pinggiran kota, membentuk komunitas teater. Lewat sanggarnya inilah dia pernah membuat geger lantaran gagasan tentang perlunya mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara. Sampai kini dia selalu mengucapkan Salam Nusantara. Pertengahan 2006, Ray kembali aktif di dunia film dengan membintangi Dunia Mereka bersama Ira Wibowo garapan sutradara Lasja Fauzia. Merunut ke belakang perjalanan karir Ray, dia menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981, tanpa restu orang tua Dewi Yull, HRM Soendaryo dan Masayu Devi Hetimawati karena perbedaan agama saat itu. Pernikahan mereka mampu bertahan sampai 23 tahun dan mempunyai empat orang anak, (Almh) Giscka Puteri Agustina Sahetapy, Rama Putra Sahetapy, Surya Sahetapy dan Muhammad Raya. Namun kemudian Dewi Yull memilih untuk menolak poligami, sehingga memutuskan menggugat cerai Ray karena sang suami hendak menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti (Iin), seorang janda pengusaha yang pernah menjadi dosen seni pertunjukan di Institut Kesenian Jakarta. Ray-Dewi resmi bercerai 24 Agustus 2004 dan kemudian Ray menikah dengan Iin, Oktober 2004. Dia juga pernah sangat marah dan berniat ikut menggalang relawan guna mengganyang Malaysia. Ray merasa Malaysia telah menghina dan melecehkan bangsa Indonesia. Kini, Ray tengah menjalani suting film Keira di Lampung. "Kebetulan banyak obyek wisata di sini, suting sambil menikmati hiburan wisata alam natural. Pagi-pagi sebelum suting olahraga biar tetap sehat ha ha.." tuntasnya tertawa senang. (ali/d)

Berita Terkait

News Update