Ketika Isteri Ditinggal Ngadem
Selasa, 19 Mei 2009 - 3:49 WIB
APES banget nasib Bunadi, 37. Ditinggal ngadem di teras rumah, istri di kamar malah “anget-angetan” dengan Pak Kasun. Begitu cemburunya dia, pamong desa di Probolinggo (Jatim) itu selalu dikejar-kejar untuk dibunuhnya. Tapi apes dua kali Bunadi. Pembunuhan itu gagal tapi dia kadung masuk tahanan.
Tugas pamong adalah melayani masyarakat. Sebab sesuai namanya, pejabat pemerintahan desa harus bisa ngemong warganya. Dibangkitkan gairahnya untuk ikut bergiat dalam membangun desa. Karena itu, pamong desa yang hanya memikirkan sawah bengkok yang jadi haknya, bukan jamannya lagi. Lurah merupakakan kepanjangan : bisa ndulu (mampu melihat) dan bisa nglarah (bisa mengusut); bukan singkatan: olehe ngulu ngarah-arah (mau nilep harus berhati-hati).
Ini merupakan ajaran bagi pamong desa, yang rupanya kurang disadari oleh Kasun (Kepala Dusun) Samirin, 41, warga Krajan Kidul Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo. Yang terjadi justru sangat bertentangan filosofinya seorang pamong. Sebagai kasun, Samirin malah suka ngesun bini warganya. Soalnya, setiap melihat warganya yang nampak sedikit cantik, Pak Kasun sudah kegatelan kepengin macari dan menyelingkuhi.
Korban terakhir Samirin adalah Tanti, 28, istri Bunadi. Dia sudah lama nginceng (mengincar) wanita yang sekel nan cemekel tersebut. Ingin sekali Pak Kasun mengajak koalisi permanen, sehingga dengan berbagai cara dia berusaha mendekatinya. Mujur baginya, sebab aspirasi arus bawahnya sepertinya dapat angin. Ketika suami tak di rumah, Tanti memberi ruang seluas-luasnya Pak Kasun untuk bercengkerama dalam kamarnya. Apa makna “bercengkerama” di sini, bisalah kiranya ditebak-tebak, dan pastilah tidak jauh dari persoalan.
Akibat sering ngeloni bini Bunadi, Pak Kasun menjadi semakin berani bermain di ranjang orang. Misalnya, dia menjadi tahu kebiasaan suami Tanti. Di kala Bunadi ngisis (ngadem) malam hari di teras rumah karena kegerahan, di saat itulah Pak Kasun justru menyelinap ke dalam kamar Tanti. Masuk dari dapur, langsung menuju kasur, untuk melakukan tindakan yang bikin syurrrr. “Sing kepenak wae mas, bojoku mengko mlebu ngomah nembe jam rolas (tenang saja, suamiku nanti masuk rumah baru jam 12 malam),” ujarnya.
Hari itu kenyataannya sungguh beda. Baru pukul 23.00, Bunadi sudah kepengin masuk kamar karena udara sudah mulai dingin. Tapi alangkah terkejutnya, begitu masuk kamar dia mendapatkan Pak Kasun mbethang-mbethang (tidur telentang) di ranjang hanya dengan celana pendek. Makin curiga lagi Bunadi, sebab setelah melihat kehadirannya, Kasun Samirin langsung melarikan diri. Makin yakinlah dia bahwa terlah terjadi hil-hil mustahal bersama istrinya. Apa lagi saat itu Tanti malah berada di kamar mandi. Mungkin saja dia baru bersih-bersih setelah pertarungan nan seru.
Ketika diinterogasi, Tanti tak menolak dugaan suami. Tapi demi stabilitas antar warga, Bunadi mencoba meredam aib dalam keluarganya tersebut. Dia tak segera bikin perhitungan dengan Pak Kasun, tapi dalam benaknya ada tekad, sekali waktu harus berhasil membunuhnya. Tapi agaknya Tuhan memang belum mengijinkan. Sebab seminggu kemudian, ketika Bunadi berhasil melukai Pak Kasun dengan parang, tokoh masyarakat mengingatkannya. Parang itu tak jadi menghabisi nyawa Kasun Samirin, justru dia kemudian dilaporkan ke Polsek Tongas dan ditahan.
Untung Bunadi masih sadar. Hampir saja Samirin jadi perkedel. (JP/Gunarso TS)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id


Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 