“Koalisi” Kakek dan Janda

Sabtu, 16 Mei 2009 - 2:32 WIB

| More
http://www.poskota.co.id/wp-admin/post.php?action=edit&post=3743

http://www.poskota.co.id/wp-admin/post.php?action=edit&post=3743

AGAKNYA usia lanjut bukan halangan untuk sebuah cita-cita. Lihat mbah Madyo, 60, dari Jombang (Jatim). Dalam usia setinggi itu dia masih bercita-cita “berkoalisi” dengan janda tetangga. Berhasil sih memang berhasil, cuma Ny. Mustikah, 23, yang tak rela digoyang paksa, akhirnya mengadu pada keluarga, bla bla bla….!

Tak bisa dipungkiri, kakek-nenek belakangan semakin laku keras. Lihat saja Capres dan Cawapres RI menuju ke Pilpres 2009, kecuali Prabowo semuanya berusia minimal 60 tahun. Mereka berkoalasi dan pasang strategi, bagaimana bisa jadi pemenang dan memimpin Indonesia 5 tahun ke depan (2009-2014). Cuma berkoalisi juga harus hati-hati. Lihat Taufik Kiemas sesepuh PDI-P; belum juga berhasil menggolkan koalisi Banteng dan Demokrat, sia sendiri terkena serangan jantung gara-gara virus koalisi!

Ilmu berkoalisi ternyata bukan hanya milik kalangan elit politik. Masyarakat akar rumput model Mbah Madyo, belakangan juga tengah sibuk menggalang koalisi. Biar usia sudah “waktu asar”, dia pede saja menelateni janda Mustikah tetangganya sendiri. Bila koalisi antar elit politik menawarkan kekuasaan, Mbah Madyo justru menawarkan kenikmatan. “Kalau cocok, Insya Allah 5-10 tahun ke depan “kenikmatan” itu akan saya nikmati bersamanya…,” tekad Mbah Madyo dengan memperhitungkan sisa-sisa umurnya.

Keberanian dan kenekadan Mbah Madyo jelas sangat menggelisahkan para anak muda yang juga naksir Mustikah. Ini mirip kegelisahan PKS, PAN dan PPP ketika SBY menggandeng Cawapres Boediono. Kenapa para anak muda menolak Mbah Madyo? Soalnya, meski dijamin bukan neo-liberal, kelakuan si kakek ini sudah termasuk a-moral. Bagaimana nggak a-moral? Istri sudah punya, dan anak-anak juga sudah remaja, eh kok masih tega-teganya mau berkoalisi dengan janda muda!

Akan tetapi Mbah Madyo tak peduli akan segala keberatan itu. Baginya, berkoalisi dengan janda merupakan hal prerogatif seorang calon…..pengantin. Biar saja anak muda pada nggambleh (banyak omong), yang penting kan Mustikah bisa menerima kehadirannya. Terus terang, dengan janda itu Mbah Madyo memang belum berterus terang tentang rencana “koalisi” tersebut. Sebab kedekatan Mustikah dengannya selama ini karena janda itu membutuhkan figur seorang ayah. Maklum, dari kecil Mustikah sudah menjadi anak yatim.

Hal-hal inilah yang masih belum terjadi titik temu. Mustikah menganggap Mbah Madyo sebagai bapak, sebaliknya Mbah Madyo menganggap janda itu bukan anak, tapi enak! Lantaran beda platform tersebut, Mustikah tak curiga sama sekali ketika sering diajak jalan-jalan Mbah Madyo. Sampailah pada kejadian seminggu lalu. Saat diajak jalan-jalan ke areal perkebunan, tiba-tiba si kakek mengajaknya berhubungan intim sebagaimana layaknya suami istri. Awalnya Mustikah menolak. Tapi setelah digelitik langsung pada sumbernya, si janda bertekuk lutut dan berbuka paha pada Mbah Madyo.

“Koalisi” yang jadi cita-cita Mbah Madyo berhasil sudah, bahkan sampai dua kali! Tapi karena persetubuhan itu bagi Mustikah sangat bertentangan dengan hati nuraninya, dia menjadi selalu gelisah dan murung. Sikap ini segera tercium oleh ibunya. Ketika putrinya diinterogasi dengan dipaksa menjawab 15 pertanyaan, akhirnya Mustikah mengakulah, bla bla bla. Tentu saja hal ini membuat gempar warga Desa Karangwinongan Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang (Jatim). Mbah Madyo dilaporkan ke Polrsek Mojoagung dan segera dijebloskan dalam sel.
Untuk lanjutkan koalisi dengan sesama Napi, mbah? (JP/Gunarso TS)

Bookmark and Share

Baca Juga

  • No Related Post
Komentar Terkini (2 Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id