Jakarta Tak Siap Hadapi Cuaca Ekstrim

Selasa, 26 Oktober 2010 - 17:02 WIB

| More
Jakarta Tak Siap Hadapi Cuaca Ekstrim

JAKARTA (Pos Kota) – Pemprov DKI tampaknya tidak siap dengan kondisi cuaca ekstrim yang melanda Jakarta saat ini. Segala fasilitas yang tidak memadai berdampak pada genangan air dan banjir di beberapa titik kota.

Misalnya pada sarana drainase yang banyak telah berusia tua. Tidak hanya itu air yang dialirkan juga kerap tidak maksimal lantaran kapasitas yang ada tidak mampu membendung curah hujan yang sangat tinggi.

“Curah hujan yang ada saat ini mencapai 200 mm3 perjam padahal drainase yang dibuat hanya dirancang untuk 10-20 mm3. Akibatnya terjadi antrean air,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI, Selasa (26/10).

DI satu sisi untuk membangun sistem drainase yang lebih besar tidaklah mungkin dilakukan karena akan terjadi pemborosan. “Kondisi ini tidak terjadi secara rutin hanya sesekali waktu dalam beberapa tahun. Sehingga kalo dibangun lebih besar maka bisa dikatakan pemborosan,” tandasnya.

Sehingga jangan heran jika saat ini banyak ruas jalan yang tergenang, tidak terkecuali pada jalan protokol MH. Thamrin- Jenderal Sudirman. Hal yang sama juga terjadi pada aliran sungai yang banyak mengalami penyempitan akibat maraknya pendirian bangunan di bantaran. Seperti yang terjadi di Kali Krukut dan Kali Grogol.

Idealnya kali tersebut memiliki lebar hingga 10 meter namun kenyataannya saat ini di beberapa titik hanya menyisakan lebar 1,5 meter.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tanggul yang rentan jebol. Dikatakan Tarjuki, Kabid. Pemberdayaan Sumber Daya Air Dinas PU DKI, hal ini terjadai lantaran banyak tanggul yang dibangun berpondasi tanah. Sehingga mudah tergerus air.

Diantarnya tanggul Kali Pesanggrahan, tanggul Kali Sunter dan tanggul Kali Krukut. “Ke depan kami berencana akan membangun seluruh tanggul dengan menggunakan sheet pile sehingga tidak akan mudah tergerus air,” tandas Tarjuki.

MASALAH CUACA

Sementara itu Gubernur DKI, Fauzi Bowo, saat meninjau proyek pembuatan crossing di Jalan MH. Thamrin, berharap warga maklum dengan kondisi yang terjadi saat ini.

“Semua ini karena masalah cuaca bukan berarti Pemprov DKI tidak bekerja dalam menangani masalah ini,” ujar Fauzi menanggapi banyaknya hujatan warga yang mengarah kepadanya saat Jakarta lumpuh total akibat hujan deras pada Senin (25/10) malam.

Salah satunya pengerjaan pelebaran crossing saluran air di kawasan jalan tersebut. Sehingga diharapkan melalui proyek senilai Rp60 miliar ini genangan air dapat teratasi. Seperti di Jalan Sabang, Monas, dan kawasan Jalan Medan Merdeka dapat tetap ‘kering’ saat diguyur hujan.

Menurutnya proyek ini menjadi prioritas Pemprov DKI Jakarta saat ini mengingat prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan kecenderungan curah hujan yang sangat tinggi di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Fauzi Bowo memaparkan dalam satu hari curah hujan beberapa kawasan DKI Jakarta lebih tinggi jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Curah hujan kawasan Pasa Minggu tercatat sebesar 155,5 milimeter, Ciputat 105 milimeter, Stasiun Kedoya capai 167 milimeter, dan Pakubuwono sebesar 119 milimeter.

Sedangkan Dinas PU DKI mencatat saat 106 titik lokasi genangan air di jalan arteri dan kolektor. Dengan rincian, Jakarta Pusat 27 titik lokasi genangan air, 12 titik lokasi genangan air di Jakarta Utara, 13 titik lokasi genangan air di Jakarta Timur, 22 titik lokasi genangan air di Jakarta Selatan, dan 32 titik lokasi genangan air di Jakarta Barat.

Ke-106 titik lokasi genangan air tersebut akan dikerjakan selama tiga tahun, mulai tahun ini hingga 2012 mendatang.

Tahun ini Dinas PU DKI Jakarta mengerjakan 33 titik lokasi genangan air dengan rincian 8 titik di Jakarta Pusat, 6 titik di Jakarta Utara, 6 titik di Jakarta Timur, 6 titik di Jakarta Selatan, dan 7 titik Jakarta Barat.

Secara terpisah, Ketua Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu, menegaskan peristiwa banjir yang melanda warga beberapa waktu terakhir bukan hanya lantaran debit hujan yang tinggi maupun cuaca ekstrem. Melainkan juga dapat menjadi bukti kinerja Unit PU Tata Air DKI tidak bekerja secara maksimal.

“Sejak tahun lalu hingga saat ini anggaran penanggulangan banjir tidaklah sedikit tapi kenyataannya banjir dan genangan masih tetap terjadi. Dan gubernur harus mengambil tindakan kongkret terhadap unit kerja tersebut,” cetus Tom.

Untuk itu dirinya mendesak instansi terkait segera melakukan perbaikan terhadap seluruh drainase. “Bila pimpinan PU tata Air tidak sanggup mengatasi persoalan itu, sudah selayaknya gubernur mencopot jabatannya,” pungkasnya.(guruh/dms)

Bookmark and Share
Komentar Terkini (Belum ada Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id