Bandar Internasional Tebar 80 Kg Shabu di Jakarta

Sabtu, 31 Desember 2011 - 5:28 WIB

| More
Bandar Internasional Tebar 80 Kg Shabu di Jakarta

JAKARTA (Pos Kota) – Malam ini, ‘wajah’ Ibukota Jakarta bakal berubah. Pesta pergantian tahun yang ditunggu-tunggu tiba. Memanfaatkan perayaan Tahun Baru 2012, jaringan narkoba internasional tidak melewatkan begitu saja. Mereka menebar 80 kilo shabu-shabu.

Sumber Pos Kota di Mabes Polri menjelaskan, narkoba seberat itu diselundupkan dari luar negeri, melalui jalur laut dan udara. “Shabu 80 kilo sudah ada di tangan bandar dan pengecer. Tinggal ditebar pada malam pergantian tahun, “ kata sumber itu, Jumat (30/12) siang.

Tidak hanya shabu, barang laknat seperti ekstasi juga siap diedarkan, terutama di tempat hiburan malam. Konsumen yang membutuhkan narkoba saat malam pergantian tahun diperkirakan mencapai 700 ribu orang.

Data intelijen menyebutkan, shabu yang sudah masuk Jakarta didatangkan jaringan internasional dari Iran, Malaysia, China dan Belanda. Anggota jaringan asing itu berjumlah 5 – 6 orang. “ Mereka kini sudah menginap di hotel berbintang, “ tambah sumber.
Khusus, jaringan asal Belanda, mereka memasok pil ekstasi yang disebarkan ke sejumlah lokasi hiburan malam. Pil gedek ini, merupakan pilihan utama bagi yang ingin ‘ajep-ajep’ di diskotek dan karaoke. Ekstasi ini dianggap lebih mudah dilakukan karena tinggal telan sambil menikmati indahnya malam pergantian tahun. Tidak seperti shabu yang harus membutuhkan peralatan untuk membakar.

PASAR TERBESAR

Kepala Sub Direktorat II Ditnarkoba Bareskrim Polri, Kombes Siswandi, menyatakan saat ini Jakarta sudah menjadi pangsa narkoba terbesar se-Asia. Ibarat gula, kesempatan ini dimanfaatkan jaringan internasional untuk meraih keuntungan sebanyak mungkin, berkaitan moment pergantian Tahun Baru.

Menjelang Tahun Baru hingga pelaksanaan malam Tahun Baru, diperkirakan transaksi bisnis narkoba mencapai Rp30 miliar per hari. Ini jauh meningkat dibanding hari biasa yang berkisar Rp6 miliaran rupiah perhari,” ujarnya, Jumat (30/12).

Siswandi mengatakan, pihaknya termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN) atau Bea Cukai di bandara maupun pelabuhan laut sudah berbuat semaksimal mungkin untuk mencegah masuknya narkoba . “Namun mereka juga pintar dan berupaya semaksimal mungkin untuk memasukkan barang haram itu ke Jakarta,” tandasnya.

Dijelaskan Siswandi, Karena itu, saat ini pihaknya juga sedang menunggu pemasok shabu asal Dubai yang diperkirakan membawa shabu sebanyak 40 Kg. “Data-data itu sudah masuk dari Interpol, termasuk ciri-ciri yang membawa shabu dalam jumlah besar tersebut,” sambungnya.

HARGA SHABU NAIK

Seiring besarnya permintaan shabu di Jakarta, terjadi kenaikan di tingkat pengecer. Sebelumnya, 1 gram shabu hanya Rp1,4 juta. Namun, untuk malam Tahun Baru naik tajam hingga mencapai Rp2,2 juta pergram.

Bagi pemula, 1 gram shabu bisa dipakai untuk 14 orang, sedangkan bagi pengguna tetap dibutuhkan 3 gram perhari. “Jika saat ini sudah tersedia 80 Kg untuk malam Tahun Baru, berarti shabu itu bisa dipakai hingga 1,1 juta jiwa,” sambung Siswandi.

Sementara itu, Psikolog Reza Indragiri, mengatakan Indonesia memang telah menjadi target perdagangan narkotika. Banyak negara secara khusus menargetkan Indonesia, mulai dari Asia, Amerika hingga Afrika, karena hukum untuk kejahatan narkotika di Indonesia masih lemah.

“Selain populasinya yang besar, terutama banyak anak muda, dan juga adanya persepsi dari sindikat kalau Indonesia itu hukumnya lemah dan ringan,” Kata Reza.

Salah satu bentuk kelemahan ada pada pemberian hukuman mati. Waktu eksekusi hukuman mati sejak ditolaknya grasi, kata Reza, masih tidak pasti. “Seharusnya ditetapkan setelah ditolak grasi, setidaknya paling lambat satu bulan sudah harus diekskusi,” ucapnya.

Reza menambahkan perang terhadap narkotika menjadi perang yang tidak berkesudahan. Oleh sebab itu, dibutuhkan cara bekerja yang melibatkan banyak sektor. “Sekarang cara bekerjanya BNN cenderung represif, hanya mengurusi penumpasan, tidak fokus pencegahan. Kondisi itu diperparah dengan penegak hukum kita yang mudah dibeli,” ungkapnya.

Jika hukum sudah dibeli, lanjut Reza, jual beli narkoba dimana pun lokasinya akan semakin rapi terorganisasi. “Saya pernah berbincang dengan salah satu artis pengguna narkoba. Menurutnya yang harus disidak itu adalah organisasi penegak hukum baik itu, polisi, jaksa mapun kepala lembaga pemasyarakatan,” tukasnya.


(tiyo/ilham/sir)

Bookmark and Share
Komentar Terkini (1 Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id