500 Polisi dan Sniper Amankan Rakornas, Kursi Anas Kian Panas!
Jumat, 22 Juli 2011 - 2:01 WIB
SENAYAN (Pos Kota) – Menjelang rapat koordinasi nasional (Rakornas) 23-24 Juli di Gedung SICC Sentul Bogor, Partai Demokrat terasa kian membara. Jaminan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yodhoyono bahwa kursi Ketua Umum Anas Urbaningrum aman ternyata tidak mendinginkan suasana.
Kemarin, justru mulai ada kader Anas dan pendiri partai yang mengusik kursinya. Mereka minta Anas non aktif dari jabatan ketua umum untuk menyelesaikan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Mohamad Nazaruddin.
Entah ada kaitannya atau tidak dengan bara panas itu, yang jelas aparat kepolisian siap menerjunkan 500 personel berikut sniper atau penembak jitu untuk mengamankan Rakornas besok.
“Kita sudah berkoordinasi dengan TNI dan Pengamanan Internal Gedung serta partai untuk melakukan langkah antisipasi. Sebanyak 500 personil Polres Bogor akan menjaga ring 2 dan 3. Kami juga menyediakan sniper dengan berkoordinasi dengan TNI,” tandas Kapolres Bogor, AKBP Herry Santoso, kemarin.
Herry menjelaskan persiapan yang dilakukan aparat merupakan standar pengamanan VVIP karena akan dihadiri oleh Presiden SBY. “Selain itu juga seluruh anggota DPR dan DPRD dari PD,” kata Ketua Panitia Rakornas, Dedi Mulyadi. “SBY beserta 5000 kader akan memenuhi Gedung SICC untuk mengikuti Rakornas.”
Kapolres Bogor, AKBP Herry Santoso, menambahkan pengamanan tidak hanya di sekitar gedung, tetapi juga arus lalulintas saat SBY melintas, karena dalam kegiatan itu dikhawatirkan terjadi permasalahan di jalan.
DIMINTA NON AKTIF
Panasnya bara di Partai Demokrat terpicu dengan usulan penonaktifan Anas Urbaningrum menyusul teror yang dilancarkan oleh mantan Bendahara Umum PD, M Nazaruddin.
“Dengan kebesaran hati dan ketulusan jiwa saya kira Bung Anas non aktif dari Ketua Umum untuk menghadapi sangkaan dan tuduhan Nazaruddin,” kata Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Tengah A Dhani Sriyanti, kemarin.
Menurutnya, jika Anas tidak non aktif, keadaannya akan terus berkembang mengarah ke hal buruk.Hencky Luntungan dari Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat menegaskan bahwa demi menyelamatkan partai SBY harus menyelamatkan partai sekaligus membersihkan orang yang disebut-sebut oleh Nazaruddin.
“Mereka jelas harus dinonaktifkan dahulu sebagai bentuk pertanggungjawaban moral,” katanya. “Tidak hanya Anas tetapi juga Andi Malarangeng, Mirwan Amir, Angelina Sondakh, Jafar Hafsah harus dinon aktifkan dahulu. Kalau tidak terbukti dikembalikan.”
Ia juga minta orang yang baru duduk di PD tidak terlalu banyak bicara tentang partai. ”Karena yang merusak PD ini justru para pendatang dan mereka sama sekali tidak tahu sejarah dan siapa yang mendirikan PD ini.
Di antara para pendatang itu maling teriak maling setelah tertangkap baru kemudian ketahuan mereka sama-sama maling.
Mantan Wakil Sekjen Partai Demokrat Soekartono juga mengungkapkan hal sama. Situasi Demokrat sudah seperti di ujung tanduk. Karena itu SBY harus menata ulang bukannya memberi jaminan. “Perlu langkah revolusional untuk menyelamatkan,” katanya.
Ia juga menilai penyebab gonjang-ganjing di Demokrat sekarang ini sederhana yakni sistem rekrutmen yang tidak dilandasi pengkaderan yang benar.
BELA ANAS
Kalangan yang dekat Anas menganggap para pengusul itu menentang perintah Ketua Dewan Pembina PD. Apalagi kata I Gede Pasek Suardika sebagai kader yang dekat dengan ketua umum, menyatakan Anas tidak seperti dituduhkan Nazarudin.
Ia meminta pihak-pihak yang meminta Anas non-aktif itu memahami kembali perintah SBY. “Mereka itu menentang perintah Ketua Dewan Pembina, perintah Pak SBY. Jadi, saya harapkan, mereka kembali kepada perintah SBY tersebut,” kata Pasek. “Yang mengusulkan Anas non-aktif itu bukan pemilik suara.” (yopy/winoto/us/o)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id


Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 