Warga Timur Libya Berlatih Militer untuk Menyerbu Tripoli

Selasa, 1 Maret 2011 - 11:32 WIB

| More
Warga Timur Libya Berlatih Militer untuk Menyerbu Tripoli

TRIPOLI (Pos Kota) –  Tentara  pemberontak di wilayah timur mengatakan, mereka melakukan  pelatihan sebelum bergerak menuju ibukota Tripoli, untuk menumbangkan kekuasaan Muammar Khadafi.   Mereka mengajak kaum  muda yang  bersemangat untuk menuju  barat dan mengalahkan  pasukan yang masih setia pada Muammar Gaddafi

Ketimbang  menunggu, mereka dapat mengubahnya dengan menyerang, dan menjadi sebuah kekuatan tempur yang efektif, kata mereka.

Ratusan demonstran dan warga dari kota timur Benghazi yang berangkat setiap hari melintasi padang pasir ke ibukota Libya, beberapa di antaranya  membawa pisau dan senapan serbu, kata warga kepada Reuters.

Tetapi perwira militer mengatakan lebih banyak warga dan demonstran anti Khadafi yang tinggal di belakang untuk berkumpul di kamp-kamp pelatihan di sekolah-sekolah darurat dan barak yang sebelumnya terbakar.

“Kami  memberikan apa yang mereka butuhkan: pelatihan dalam penyerangan, dan mempertahankan posisi.  Mereka harus tahu bahwa kita di sini untuk melindungi revolusi pemuda,” kata Marai Lojeli, kolonel berusia 50 tahun .

Di sebuah sekolah yang basah oleh  hujan di pinggir  jalan yang sibuk di kota Benghazi , Kolonel Musa Fitouri menjelaskan cara kerja dari sebuah meriam anti-pesawat untuk merekrut selusin warga yang masih bugar.

Kol. Fitouri,  pria kecil kurus dengan kumis abu-abu terlihat rapi sekitar tiga kali usia murid-muridnya, yang sebagiannya mengenakan  baret olahraga ala  Che Guevaraa, juga syal kifaya dan jenggot tipis pendek.

Seorang kapten, tinggi gempal meneriakkan perintah dan dua dari pemuda  maju secara  hati-hati mengangkat kotak putaran artileri di bawah salah satu barel hitam kembar.  Mereka masih dianggap masih terlalu lambat dan dia memerintahkan untuk mencoba lagi.

“Tentu saja kita semua ingin pergi ke Tripoli,” kata Ashraf Ali Jaffar, 41 tahun . ”Tetapi orang-orang ini perlu ditugaskan untuk unit dan dilatih untuk melindungi Benghazi.  Segera setelah kami bisa melakukan itu, kita berangkat ke Tripoli..”

Para tentara reguler dan orang-orang militer yang pensiun atau mengundurkan diri dari angkatan bersenjata tahun lalu, kini melatih sipil dan demontran anti Khadafi untuk mengangkat senjata.

“Saya dekat dengan Khadafi dan bahkan berjuang di unit tentara Libya pada tahun 1991 ketika mereka mencoba untuk membunuhnya,” kata mantan pilot angkatan udara Awa Zoubi yang terluka dalam kecelakaan dan sekarang bekerja untuk muatan  truk. ”Tapi saya tidak senang ketika dia mulai membunuh warga sipil. Hidup saya tidak memiliki makna ketika orang-orang di sekitar saya mati..”  tegasnya.

Seorang Jenderal Angkatan Darat yang telah membelot dari Khadafi mengatakan tentara reguler telah hampir sepenuhnya meninggalkannya  dan sebuah dewan revolusioner yang baru telah  lahir,   berbasis di kota Benghazi.

Para pemberontak mencoba melawan pasukan pemerintah yang  berusaha untuk mengambil kembali kota-kota pesisir yang strategis di kedua sisi ibukota Tripoli, Senin.

Di Benghazi, perwira tentara pemberontak mengatakan bahwa brigade paling ditakuti setia kepada Khadafi kini memonopoli persenjataan, yang  paling modern, dan meninggalkan tentara reguler yang kurang lengkap persenjataannya .

“Ketika kami masuk barak mereka, gudang senjata di sana sangat besar. Kami telah mengambil 1.000 senjata artileri berat,” kata Rafaa, seorang perwira yang lebih suka untuk tidak memberikan nama keluarganya.

Para pemimpin koalisi revolusioner yang berbasis di gedung pengadilan Benghazi yang telah berusaha untuk meyakinkan publik bahwa senjata tidak jatuh ke tangan-tangan tidak terlatih.
Tapi beberapa bukti menunjukkan warga sipil di wilayah Benghazi memegang  senjata yang ditemukan setelah pasukan Khadafi yang melarikan diri.

Keadaan menjadi  sulit untuk perwira atas  munculnya milisi yang tidak disiplin dan tidak berkoordinasi dalam upaya  menangkis serangan besar dari barat.

Ada yang meneleponnya  dan mintastasiun radio Benghazi’s “dibebaskan” dari todongan senjata ”anak-anak”.

Tentara pemberontah di sebuah pangkalan militer di Djabiya, 150 km barat daya Benghazi, mengatakan,  senjata ringan sudah didistribusikan ke orang-orang muda di  kota itu.
Wartawan Reuters sempat diajak ke sebuah  kamar dengan tumpukan tinggi yang penuh peluru artileri dan mortir, roket, rudal tank dan peluru kaliber besar.

Khalid al-Obeidi, tentara lain, mengatakan lebih dari 1.000 senjata ringan telah didistribusikan kepada penduduk.  ”Ya, setiap orang muda revolusi yang datang ke sini, kami memberikan mereka senjata. Kami sudah siap untuk apa pun,” kata Obeidi.

Zwei mengatakan pertahananan  terhadap setiap serangan pada daerah Djabiya akan sengit. ”Kami memiliki tentara, tapi kami siap untuk memerangi rumah ke rumah jika memang harus,” kata Zwei, menambahkan: ”Setiap keluarga  di sini sekarang memiliki senjata .” (dms)

Bookmark and Share
Komentar Terkini (Belum ada Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id