Tengkulak, Spekulan dan Pedagang Besar Untung
Selasa, 4 Januari 2011 - 18:16 WIB
BOGOR (Pos Kota) – Tak hanya di pasaran tingkat nasional, lonjakan harga cabe hingga 700 persen juga terjadi di sejumlah pasar di Bogor. Sejak dua pekan terakhir, jenis kebutuhan pokok yang satu ini mencapai Rp 75.000 per kilogram.
Padahal, harga normalnya hanya Rp 5.000 hingga Rp8.000 per kilo. Kenaikan cukup tinggi terjadi untuk cabai merah keriting mencapai Rp 70.000 per kilo. Sedangkan cabe rawit yang sebelumnya Rp 8.000, kini dijual Rp 52.000 per kilo. Kondisi ini membuat para pedagang risau.
Anang, misalnya, pedagang di lantai dasar Pasar Anyar, Kota Bogor, mengaku kenaikan harga cabe memaksanya mengurangi pasokan. “Saya tak berani mengambil pasokan banyak. Takut nggak terjual,” ujarnya, Selasa. Biasanya, sekali belanja, ia membeli sepuluh kilo cabai. Namun sejak harga naik, ia hanya beli lima kilogram. “Paling saya cuma beli lima kilo,” ucapnya. Sedangkan Abdulah, pedagang di Pasar Cibinong ngeluh karena pendapatan berkurang. “Omset saya menyusut 30 persen sejak harga cabai merah keriting naik,” keluhnya.
Keluhan pedagang ini berbanding terbalik dengan dirasakan sejumlah petani cabai di Kampung Kebun Teh Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang. Mereka mengaku naiknya harga cabai membuat pendapatan mereka juga ikut bertambah. Biasanya setengah hektar lahan cabai menghasilkan Rp 1,5-2 juta untuk sekali panen yang masa panennya antara tiga-empat bulan sekali.
“Kini saya meraup Rp 5,4 jutaan,” katanya. Diakuinya penghasilan tambahan ini seharus lebih besar lagi, tapi para petani tak bisa berbuat banyak. Sebab selama ini tengkulak yang memgambil di tempat. “Sebelum harga cabe naik, tengkulak mematok Rp 2.000 per kilo, kini dipatok harga Rp 24.500 per kilo,” jelasnya.
Ulah tengkulak ini ditanggapi Kepala Diskoperindag Kabupaten Bogor Udin Syamsudin yang mengatakan, petani cabe di Kabupaten Bogor tergolong kecil sebab baru dipasarkan di sekitar tempat tinggalnya hingga ke kecamatan. “Permainan tengkulak seperti itu masih tergolong wajar, sebab petaninya masih bisa untung,” katanya seraya menyebutkan pasokan cabe di pasar di Kabupaten Bogor masih didominasi dari sejumlah daerah di Jawa Tengah.
Ia mencermati jika kenaikan harga tersebut tidak berkorelasi positif pada kesejahteraan petani cabe tapi hanya menguntungkan segelintir pemain yang menguasai mata rantai perdagangan, mulai tengkulak, spekulan hingga pedagang besar, pihaknya baru bertindak “Sebab itu kami sudah minta kecamatan memantau permainan tengkulak ini dengan memberikan laporannya,” katanya.
Meski cabai meroket hingga 600 persen itu terlihat di depan mata, Pemkab Bogor tak dapat berbuat banyak, sebab penentuan harga diserahkan ke mekanisme pasar. “Kalau harga cabai merah, pemerintah tak dapat mengintervensinya. Kecuali harga kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir dan minyak goreng yang meroket, akan digelar operasi pasar,” tukasnya.
(iwan/sir)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id


Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 