Gawat, Penipu Dengan Berbagai Cara Kian Marak
Senin, 6 September 2010 - 10:17 WIB
MAMPANG PRAPATAN (Pos Kota) – Aksi penipu untuk mendapatkan uang, semakin marak menjelang Lebaran ini. Di antaranya menyebarkan pesan pendek (SMS) ke calon korban dengan modus kesulitan uang. Minta dikirim pulsa dan minta Tunjangan Hari Raya (THR).
Tidak tanggung-tanggung, mereka mencatut nama orang-orang yang ada di sekitar korban untuk meyakinkan calon korbannya. Misalnya mengatasnamakan mama, istri, suami atau pun anak dan anggota keluarga lainnya.
“Mungkin pulsa yang diminta nggak seberapa paling Rp50 ribu, tetapi jika penjahat tersebut berhasil mengelabui 20 korban dalam sehari, berapa nilai pulsa yang berhasil dikumpulkan,” ujar Fatimah, warga Tegal Parang, Jakarta Selatan (5/9).
Ia mengaku pernah mendapatkan SMS serupa yang mengatasnamakan mama. Meski awalnya ia sempat curiga karena nomer ponsel tak dikenal, tak urung Fatimah mentransfer pulsa. Pertimbangannya nilai yang diminta tidak banyak dan yang meminta adalah mama.
Beda dengan Andre. Ia justeru mendapatkan sms dari seseorang yang mengaku kenalan lamanya. Dengan mengatasnamakan seorang perempuan, sang penipu meminta agar Andre mentransfer sejumlah uang sekedar THR. “Istri saya sempat mencak-mencak, dikira saya bagi-bagi uang ke perempuan lain,” kata Andre, warga Kalibata.
MINTA ZAKAT
Selain penipuan dengan menggunakan media SMS, beberapa hari menjelang Lebaran, Jakarta juga diserbu oleh penipuan berkedok majelis taklim, yayasan yatim dan masjid atau mushola. “Tiap hari toko saya didatangi orang minta sumbangan yang mengatasnamakan yayasan yatim dan masjid. Mereka minta zakat,” kata Yanti.
Peminta sumbangan tersebut lanjutnya meminta dengna pasang tarif minimal Rp20 ribu. Alasannya uang tersebut harus senilai minimal satu zakat fitrah. “Kalau dikasih seribu marah-marah,” lanjut Yanti.
Ia berharap agar Pemda maupun pihak polisi turuntangan terhadap maraknya kasus penipuan dengan kedok THR, maupun yayasan dan majelis taklim.
HARUS WASPADA
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, membenarkan modus penipuan melalui SMS menjelang Lebaran memang kian marak dengan berbagai muslihat. “Kunci mengatasinya, masyarakat harus waspada. Jangan mudah percaya begitu saja terhadap sms-sms yang tidak jelas.”
Menurut Heru, jika SMS yang diterima tidak jelas asalnya, atau jika kurang yakin dengan isinya, perlu direcek. “Sebaliknya, bila kita menjadi korban, segera laporkan ke polisi, dan minta operator memblok nomor si penipu tersebut.”
Mengenai kewajiban registrasi bagi pemegang telepon seluler yang diatur Kementerian Kominfo, kata Heru, masih tetap dijalankan. “Kesulitannya, verifikasi data yang disampaikan benar atau tidak? Apalagi masalah data kependudukan kita kadung semrawut. Kita belum punya identitas tunggal nasional. Dalam pemilu saja datanya masih berantakan.” (inung/endang/B)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id


Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 